Share

Deretan Industri Game yang Embargo Rusia Akibat Bombardir Ukraina

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 14 Maret 2022 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 14 326 2561134 deretan-industri-game-yang-embargo-rusia-akibat-bombardir-ukraina-8YSpNJglcj.jpg Deretan industri game yang embargo Rusia akibat bombardir Ukraina (Foto: CBR)

JAKARTA - Konflik Rusia dengan Ukraina berdampak pada industri game di seluruh dunia, di mana sebagian perusahaan melakukan embargo kepada Negeri Beruang Merah.

Embargo atau pelarangan perniagaan dan perdagangan dengan Rusia, membuat negara tersebut semakin sulit mendapatkan dukungan dari negara lainnya.

Dilansir dari Mashable SE Asia, Senin (14/3/2022), berikut ini daftar industri game yang embargo Rusia.

Tanggapan Microsoft, Nintendo, dan Sony

Microsoft, Nintendo, dan Sony adalah tiga nama terbesar dalam game konsol dan mereka telah membuat langkah untuk memblokir Rusia, setidaknya sampai batas tertentu.

Dalam kasus Microsoft, perusahaan yang berbasis di AS ini telah menangguhkan semua penjualan. Bukan hanya game dan perangkat keras game saja, karena mematuhi sanksi ekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Brad Smith, presiden dan wakil ketua di Microsoft, menyarankan tindakan lebih lanjut dapat diambil.

"Kami percaya, paling efektif dalam membantu Ukraina ketika kami mengambil langkah-langkah konkret dalam koordinasi dengan keputusan yang dibuat oleh pemerintah ini dan kami akan mengambil langkah tambahan karena situasi ini terus berkembang," tulis Smith.

Ia menambahkan, prioritas utama Microsoft, yang juga memproduksi Windows, adalah melindungi keamanan siber Ukraina.

Tindakan yang diambil sedikit lebih lunak dalam kasus Nintendo dan Sony, yang keduanya berbasis di Jepang. Dalam kasus Nintendo, penjualan ditangguhkan di toko online eShop perusahaan, tetapi tampaknya bukan karena keputusan langsung yang diambil dari pihak perusahaan.

Halaman dukungan yang diterjemahkan dari situs Rusia Nintendo menyatakan layanan pembayaran eShop tidak memproses pembayaran yang dilakukan dalam rubel, mata uang Rusia.

Sementara itu, Sony tampaknya telah membatalkan atau menunda tanpa batas waktu rilis PlayStation 5 dari Gran Turismo 7, entri terbaru dalam seri balap mobil andalan konsol. Itu tidak muncul di PlayStation Store versi Rusia (meskipun toko itu sendiri tampaknya masih online).

Nvidia dan Activision Blizzard ikut merespons

Tindakan yang diambil di seluruh industri tidak hanya terbatas pada pemain perangkat keras konsol saja. Tetapi, penerbit dan studio besar juga merespons dengan cara mereka sendiri.

Misalnya, produsen kartu grafis Nvidia mengatakan, kepada PC Magazine bahwa pihaknya tidak menjual produknya ke Rusia lagi.

Langkah ini, sesuai dengan tindakan yang diambil oleh Intel dan AMD; kedua pembuat chip telah menangguhkan penjualan produk mereka ke Rusia dan sekutunya dalam invasi, Belarus.

Sementara Ubisoft, penerbit Prancis dari seri Assassin's Creed, belum membuat pernyataan publik tentang penghentian penjualan. Namun, perusahaan itu merilis pernyataan yang secara khusus ditujukan pada "tim dan orang-orang Ukraina." Ubi mengelola sebuah studio di ibukota Ukraina, Kyiv.

"Prioritas utama kami adalah menjaga keselamatan dan kesejahteraan tim kami dan keluarga mereka. Selama beberapa bulan terakhir, Ubisoft telah memantau situasi dengan cermat, dan fokus utama kami adalah keamanan tim kami," katanya dalam pernyataannya.

Ia melanjutkan, ketika peristiwa meningkat pada pertengahan Februari, Ubisoft merekomendasikan semua tim berlindung di tempat yang mereka anggap aman. Untuk mendukung mereka saat membuat keputusan sulit ini, setiap anggota tim diberikan dana tambahan untuk membantu menutupi biaya luar biasa dan membayar gaji mereka lebih awal.

Sejumlah pemain kunci di sisi perangkat lunak juga telah bergerak. Penerbit Call of Duty Activision Blizzard telah menangguhkan penjualan game-nya di Rusia.

Sementara itu Electronic Arts (EA), pertama kali mengambil langkah untuk menghapus tim Rusia dari game FIFA dan NHL terbarunya.

Beberapa hari kemudian, perusahaan tersebut bergabung dengan perusahaan lain dalam menghentikan penjualan game dan konten dalam gamenya di Rusia dan Belarusia.

"Kami telah membuat keputusan untuk menghentikan penjualan game dan konten kami, termasuk bundel mata uang virtual, di Rusia dan Belarus selama konflik ini berlanjut,” terangnya.

Juru bicara Take-Two Interactive Alan Lewis (yang memiliki 2K Games dan Rockstar Games), mengatakan perusahaan telah "menyaksikan peristiwa baru-baru ini yang terjadi di Ukraina dengan keprihatinan dan kesedihan."

"Setelah pertimbangan yang signifikan, minggu lalu, kami memutuskan untuk menghentikan penjualan, pemasangan, dan dukungan pemasaran baru di semua label kami di Rusia dan Belarusia saat ini," katanya dalam sebuah pernyataan.

Epic Games, CD Projekt Red, dan lainnya turut serta

Pembuat Fortnite, Epic Games yang juga memiliki dan mengoperasikan Epic Games Store, memperjelas posisinya dalam sebuah tweet pada hari Jumat mengatakan, bahwa Epic menghentikan perdagangan dengan Rusia sebagai tanggapan atas invasinya ke Ukraina.

“Kami tidak memblokir akses untuk alasan yang sama dengan alat komunikasi lainnya tetap online: dunia bebas harus menjaga semua jalur dialog tetap terbuka,” ujarnya.

CD Projekt Red, pengembang Polandia di balik Cyberpunk 2077 dan pemilik toko game online GOG, mengambil tindakan serupa. Polandia, negara anggota NATO yang berbatasan dengan Ukraina dan sekutu Rusia Belarusia, telah mendukung upaya untuk melawan serangan Rusia dan menawarkan perlindungan kepada pengungsi Ukraina.

“Mengingat invasi militer Rusia di negara tetangga kami, Ukraina, hingga pemberitahuan lebih lanjut, CD Projekt Group telah membuat keputusan untuk menghentikan semua penjualan game kami ke Rusia dan Belarusia,” bunyi pernyataan tersebut.

"Hari ini, kami mulai bekerja dengan mitra kami untuk menangguhkan penjualan digital dan menghentikan pengiriman stok fisik produk CD Projekt Group, serta semua game yang didistribusikan di platform GOG, ke wilayah Rusia dan Belarusia," tambahnya.

Bloober Team, studio lain yang berbasis di Polandia, juga mempertimbangkan permusuhan Rusia dan berjanji untuk menghentikan penjualan game-nya yang meliputi Blair Witch dan The Medium di Belarus dan Rusia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini