Share

Dampak Bom Nuklir Jika Meledak, dari Ancaman Radiasi hingga Pengaruhi Iklim

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Senin 14 Maret 2022 16:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 14 56 2561377 dampak-bom-nuklir-jika-meledak-dari-ancaman-radiasi-hingga-pengaruhi-iklim-jRcA7Es5gd.jpg Dampak bom nuklir jika meledak, dari ancaman radiasi hingga pengaruhi iklim (Foto: The Wire)

Ancaman Radiasi

Radiasi adalah konsekuensi sekunder, dan jauh lebih berbahaya, dari ledakan nuklir. Bom fisi yang dijatuhkan di Jepang menciptakan kematian lokal.

Namun, senjata termonuklir modern meledakkan bahan radioaktif tinggi ke stratosfer (lapisan tengah atmosfer bumi), memungkinkan kematian massal berskala global.

Risiko kematian paling parah dalam 48 jam setelah ledakan. Cakupan area paparan awalnya 1.000 roentgen (satuan radiasi pengion), setelah 48 jam akan berkurang menjadi 10 roentgen per jam

Orang-orang yang mengalami dosis radiasi total sekitar 350 roentgen selama beberapa hari kemungkinan besar akan meninggal karena keracunan radiasi akut.

Lalu, orang yang selamat berisiko tinggi terkena kanker sepanjang sisa hidup mereka. Menurut ICRC , rumah sakit khusus di Hiroshima dan Nagasaki telah merawat lebih dari 10.000 orang yang selamat dari ledakan tahun 1945 yang diakui secara resmi, dengan sebagian besar kematian dalam kelompok ini disebabkan oleh kanker.

Pengaruhi Iklim

Radioaktivitas dan kematian massal akan memiliki efek lingkungan dan kesehatan yang serius. Tergantung pada skala konflik nuklir, ledakan bom nuklir bahkan dapat mempengaruhi iklim.

Abu dan jelaga yang disuntikkan ke atmosfer selama perang nuklir dapat memiliki efek pendinginan yang serius pada iklim jika cukup banyak bom yang dijatuhkan.

Sementara satu atau dua ledakan nuklir tidak akan memiliki efek global, tetapi jika ledakan mencapai 100 kali dari yang dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945, bisa menurunkan suhu global seperti zaman es sekitar tahun 1300 hingga 1850 silam.

Hawa dingin yang datang tiba-tiba ini, dapat berdampak pada pertanian dan persediaan makanan. Zaman Es kala itu menyebabkan kegagalan panen dan kelaparan pada saat populasi global kurang dari sepertujuh dari sekarang.

(amj)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini