Share

Peneliti Ungkap Protein Air Liur Kutu Bisa untuk Pengobatan

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Senin 21 Maret 2022 11:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 21 56 2565059 peneliti-ungkap-protein-air-liur-kutu-bisa-untuk-pengobatan-AaN2rbO9hr.jpg Peneliti ungkap protein air liur kutu bisa untuk pengobatan (Foto: Unsplash)

JAKARTA - Kutu adalah salah satu serangga yang paling ditakuti oleh antara manusia, tetapi mereka mungkin memiliki beberapa manfaat untuk kehidupan.

Dilansir dari StudyFinds, Senin (21/3/2022), sejumlah peneliti mengungkapkan ada obat baru yang berasal dari air liur arakhnida dan berpotensi meredakan gatal serta nyeri kronis pada manusia.

Protein itu, ditemukan dalam air liur kutu (tungau) telinga, yang menyebarkan parasit dan telah menyebabkan demam pada sapi di Pantai Timur seluruh Afrika.

Kini, obat berbahan dasar itu diharapkan suatu saat bisa menjadi pengganti opioid yang dinilai kurang efektif, memiliki efek samping yang serius, dan bisa membuat ketagihan.

Para peneliti dari Universitas Durham dan Newcastle di Inggris mengatakan bahwa protein, yang disebut V otucalis, mampu meredakan rasa sakit dan gatal dalam sebuah penelitian yang melibatkan tikus.

Senyawa itu, ditemukan ketika para peneliti menemukan kutu telinga berwarna coklat mampu mengeluarkannya ke inang mereka. Penelitian ini, dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Pharmacology.

Mereka mengatakan, biasanya Votucalis ini dikeluarkan saat mereka makan, jadi yang disusupi kutu tidak menyadari bahwa mereka telah digigit.

Pada tingkat kimia, protein mengikat histamin yang diproduksi dalam tubuh dari pengaktifan yang mengakibatkan berkurangnya respons gatal atau nyeri kronis.

Tidak seperti opioid, penelitian menunjukkan Votucalis tidak masuk ke otak yang berarti lebih kecil kemungkinannya untuk membuat ketagihan dan lebih kecil kemungkinannya untuk menyebabkan efek samping.

“Votucalis telah diuji pada manusia dengan kondisi lain, termasuk konjungtivitis, tanpa efek samping yang besar, sehingga potensi ini untuk dikembangkan menjadi obat guna mengatasi rasa sakit kronis dan gatal pasti ada,” kata salah satu penulis Dr. Ilona Obara, dari Universitas Newcastle, dalam sebuah pernyataan.

“Sungguh menakjubkan bahwa protein yang ditemukan dalam air liur makhluk kecil ini dapat mencegah rasa sakit kronis dan gatal-gatal pada manusia. Ini adalah kondisi yang membawa banyak kesengsaraan, dan pengobatan saat ini menunjukkan kemanjurannya terbatas, dan juga seringkali dapat merugikan pasien,” tambahnya.

Kemungkinan, obat dari protein dalam air liur kutu ini dapat mengobati dermatitis atopik, psoriasis, arthritis, diabetes, linu panggul, dan cedera punggung.

Para peneliti mengatakan, langkah selanjutnya menuju pengujian klinis adalah mengembangkan sistem untuk menghasilkan obat secara efektif berkerja di area yang gatal dan nyeri.

“Nyeri yang persisten atau kronis adalah tantangan kesehatan global yang besar, yang mempengaruhi lebih dari 20 persen populasi,” kata penulis lainnya, Dr. Paul Chazot, dari Universitas Durham.

“Ini adalah satu-satunya alasan terbesar orang-orang di Inggris mengunjungi dokter mereka dan itu diakui sebagai penyakit prioritas oleh WHO," tegas dia.

“The National Institute for Health and Care Excellence (NICE) telah merekomendasikan, obat nyeri opioid dan gabapentinoid saat ini tidak boleh diresepkan untuk pasien yang baru didiagnosis dengan nyeri kronis, selain penderita kanker, jadi ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan obat baru yang efektif dan aman digunakan,” lanjut Chazot.

“Studi kami adalah yang pertama menunjukkan bukti potensi anti-gatal dan penghilang rasa sakit dari Votucalis, yang sangat menarik. Kita bisa berada di ambang menemukan alternatif yang layak untuk obat opioid dan gabapentinoid,” paparnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini