Share

Ilmuwan Temukan Asteroid Pemusnah Dinosaurus 66 Juta Tahun Silam

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Rabu 23 Maret 2022 14:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 56 2566495 ilmuwan-temukan-asteroid-pemusnah-dinosaurus-66-juta-tahun-silam-Iqw9VpA3lx.jpg Ilmuwan temukan asteroid pemusnah dinosaurus 66 juta tahun silam (Foto: Newsweek)

JAKARTA - Studi baru mengungkapkan, ketika asteroid pemusnah dinosaurus bertabrakan dengan Bumi 66 juta tahun yang lalu, sejumlah besar belerang di mana volumenya lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya, terbang tinggi ke stratosfer.

Dilansir dari Live Science, Rabu (23/3/2022), setelah mengudara, awan besar gas yang mengandung belerang ini menghalangi Matahari, dan membekukan Bumi selama beberapa dekade hingga berabad-abad.

Kemudian, jatuh sebagai hujan asam mematikan di Bumi, mengubah samudera menjadi lautan kimia selama puluhan ribu tahun, yang lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

"Kami telah meremehkan jumlah belerang yang diciptakan oleh dampak asteroid ini," kata peneliti studi dan seorang dosen di School of Earth Sciences di University of Bristol di Inggris,James Witts.

Akibatnya, perubahan iklim yang terkait dengannya mungkin jauh lebih para daripada yang diduga sebelumnya.

Fakta bahwa belerang terus mengalir ke permukaan Bumi ini, dapat membantu menjelaskan mengapa butuh waktu lama bagi kehidupan, terutama kehidupan laut untuk pulih.

Sebab, sejumlah belerang yang jatuh ke daratan kemudian hanyut ke lautan. Temuan para peneliti ini disebut benar-benar kebetulan.

"Itu sama sekali bukan sesuatu yang direncanakan," kata Witts.

Tim peneliti awalnya berencana untuk mempelajari geokimia cangkang purba di dekat Sungai Brazos di Falls County, Texas. Tempat unik yang berada di bawah air selama kepunahan Zaman Kapur akhir, ketika dinosaurus non-unggas musnah.

Lokasinya, juga tidak terlalu jauh dari kawah Chicxulub di Semenanjung Yucatan, Meksiko, tempat asteroid selebar 10 kilometer menghantam permukaan Bumi.

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

Para peneliti mengambil beberapa sampel sedimen di lokasi, yang tidak mereka rencanakan untuk dilakukan. Sampel-sampel ini dibawa ke Universitas St Andrews di Skotlandia, di mana rekan peneliti studi Aubrey Zerkle, seorang ahli geokimia dan geobiologi, menganalisis berbagai isotop belerang, atau variasi belerang yang memiliki jumlah neutron berbeda dalam inti mereka.

Para peneliti menemukan "sinyal yang sangat tidak biasa". Isotop belerang memiliki perubahan kecil yang tidak terduga pada massanya.

Perubahan massa seperti itu terjadi ketika belerang memasuki atmosfer dan berinteraksi dengan sinar ultraviolet (UV).

"Itu benar-benar hanya bisa terjadi dalam dua skenario, baik di atmosfer yang tidak memiliki oksigen di dalamnya atau ketika kandungan belerang begitu, sehingga naik sangat tinggi ke atmosfer beroksigen," ujar Witts.

Perkiraan sebelumnya, aerosol belerang memasuki atmosfer Bumi setelah tumbukan asteroid berkisar antara 30 hingga 500 gigaton, menurut pemodelan iklim.

Belerang ini, dinilai akan berubah menjadi aerosol sulfat, yang akan menyebabkan 2 hingga 8 derajat Celcius pendinginan permukaan Bumi selama beberapa dekade setelah tumbukan.

Namun, temuan baru yang telah rilis di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini, menunjukkan bahwa karena jumlah belerang lebih tinggi, perubahan iklim bisa menjadi lebih parah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini