Share

Kutub Utara dan Selatan Dihantam Gelombang Panas, Bumi Terancam Tenggelam

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Jum'at 25 Maret 2022 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 25 56 2567841 kutub-utara-dan-selatan-dihantam-gelombang-panas-bumi-terancam-tenggelam-RnyMeFmIYy.jpg Kutub Utara dan Selatan dihantam gelombang panas, Bumi terancam tenggelam (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Gelombang panas dilaporkan tengah menghantam Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi. Kondisi ini, bikin para ilmuwan khawatir akan krisis iklim.

Dikutip dari Guardian, Jumat (25/3/2022), suhu di Antartika (Kutub Selatan) baru-baru ini mencapai rekor baru, bahkan lebih tinggi 40 derajat Celcius dari rata-ratanya di beberapa lokasi.

Pada saat yang sama, stasiun cuaca yang dekat dengan Kutub Utara (Arktik) menemukan pencairan es. Beberapa suhu di sana lebih dari 30 derajat Celcius di atas suhu normal.

Padahal, saat ini wilayah Antartika seharusnya mendingin dengan cepat setelah mengalami musim panas. Sementara, Arktik baru saja mengalami musim dingin. Sehingga, suhu tinggi yang terjadi dinilai mengkhawatirkan.

Suhu tinggi di kutub dikatakan sebagai tanda peringatan gangguan dalam sistem iklim Bumi. Pada pertemuan Panel on Climate Change (IPCC) tahun lalu, tanda-tanda pemanasan kutub sudah muncul dan mungkin tidak dapat diubah.

Jadi, es akan cepat mencair dan membuat permukaan air laut naik. Akibatnya, beberapa wilayah Bumi yang berada di tepi laut bisa tenggelam.

Belum lagi ketika kutub mencair, terutama di Kutub Utara, akan ada lautan gelap yang akan menyerap lebih banyak panas daripada es. Hal ini menyebabkan Bumi semakin panas.

"Pemanasan di Kutub Utara dan Kutub Selatan mengkhawatirkan. Begitu juga peristiwa cuaca ekstrem. Peristiwa ini menunjukkan perlunya tindakan segera," kata Michael Mann, direktur Pusat Sains Sistem Bumi di Universitas Negeri Pennsylvania.

"Rekan-rekan saya, dan saya juga terkejut dengan jumlah peristiwa cuaca ekstrem pada tahun 2021. Sekarang, suhu Arktik membuat rekor yang bagi saya, menunjukkan bahwa kita memasuki fase baru perubahan iklim ekstrem, jauh lebih awal dari yang kita duga," ujar Mark. Maslin, profesor di University College London.

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini