Share

Senjata Berteknologi AI Dinilai Berbahaya, Ribuan Ilmuwan Menentang Penggunaannya

Tangguh Yudha, Jurnalis · Rabu 30 Maret 2022 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 30 56 2570245 senjata-berteknologi-ai-dinilai-berbahaya-ribuan-ilmuwan-menentang-penggunaannya-dxIodPX3MA.jpg Senjata berteknologi AI dinilai berbahaya, ribuan ilmuwan menentang penggunaannya (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sudah banyak diterapkan ke berbagai bidang, termasuk ke sistem persenjataan.

Adapun senjata yang menggunakan kecerdasan buatan ini, dikenal sebagai senjata otonom atau autonomous weapon system, telah menuai berbagai polemik.

Sebab, senjata dengan kemampuan Artificial Intelligence bisa bekerja sendiri tanpa perlu dioperasikan manusia. Dan ini tentu sangat mematikan.

Dilansir dair Scientific American, Rabu (30/3/2022), seorang Profesor Emiritus bidang AI dan Robotika dari Universitas Sheffield di Inggris, Noel Sharkey, menegaskan bahwa senjata otonom merupakan bahaya yang unik bagi umat manusia.

Layaknya film Terminator, senjata otonom dapat menemukan, melacak, memilih, dan menyerang target dengan membabi buta, semuanya tanpa pengawasan manusia.

"Mereka bisa terdiri dari tank pesawat, kapal dan kapal selam yang semuanya dikendalikan komputer. Bukan tidak mungkin jika senjata terlalu pintar dapat mengambil alih kendali sepenuhnya," kata Sharkey.

Perlombaan Senjata Berteknologi AI

Senjata otonom penuh sendiri telah dikembangkan oleh sejumlah negara di dunia. Salah satunya, yakni Amerika Serikat (AS).

Sharkey menyampaikan, sejak pertengahan 2000-an, Departemen Pertahanan AS telah memicu perlombaan senjata berteknologi kecerdasan buatan dengan mengembangkan senjata otonom untuk semua cabang angkatan bersenjata.

Setiap kekuatan perang di AS, baik itu kekuatan besar dan beberapa kekuatan kecil telah berusaha untuk menghadirkan sistem senjata ini.

Tidak hanya, AS, China juga disebut telah berhasil mengembangkan senjata otonom. Menurut Menteri Pertahanan AS Mark Esper, China sudah mengekspornya ke Timur Tengah.

Kemudian, Turki telah mengumumkan rencana untuk mengerahkan armada quadcopters Kargu otonom melawan pasukan Suriah pada awal 2020, dan Rusia juga mengembangkan senjata otonom untuk menjaga wilayah udaranya.

Mereka yang menggunakannya menyebut, senjata otonom penuh mampu memberikan keuntungan militer seperti reaksi yang lebih cepat dan pengurangan paparan langsung pasukan di medan perang.

Ribuan Ilmuwan Menentang Penggunaannya

Namun, selama beberapa tahun terkahir, kampanye untuk menghentikan pengembangan robot otonom penuh telah digencarkan sebagian besar negara di dunia.

Mereka membujuk negara-negara anggota PBB untuk merundingkan larangan senjata yang dapat menyebabkan penderitaan yang tidak semestinya.

Ribuan ilmuwan dan pemimpin di bidang komputasi dan pembelajaran mesin (machine learning), termasuk DeepMind Google juga telah bergabung untuk menghentikan penggunaan senjata otonom penuh ini.

Setidaknya, ada 30 negara telah menuntut larangan langsung atas senjata yang sepenuhnya otonom, dan sebagian besar negara lain menginginkan peraturan yang jelas untuk senjata ini.

Mereka menuntut ada aturan bahwa meskipun senjata mampu mencari targetnya sendiri, tetap manusia yang memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam menyerang atau tidak.

Namun, semua ini dihalangi oleh segelintir negara yang dipimpin oleh AS, Rusia, Israel, dan juga Australia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini