Share

Studi Baru Ungkap 21 Persen Reptil Terancam Punah Termasuk King Kobra

Tangguh Yudha, Jurnalis · Selasa 03 Mei 2022 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 02 56 2588622 studi-baru-ungkap-21-persen-reptil-terancam-punah-termasuk-king-kobra-wITPIkq2Ah.jpg Studi baru ungkap 21 persen reptil terancam punah termasuk king kobra (Foto: Reuters)

JAKARTA - Satu dari lima spesies reptil terancam punah, kehidupan makhluk berdarah dingin ini di ujung tanduk karena perubahan iklim Bumi yang semakin ekstrem.

Dilansir dari Science Alert, Selasa (3/5/2022), sebuah penelitian terbaru mengungkap, spesies reptil yang terancam punah termasuk lebih dari setengah penyu, buaya, hingga king kobra.

Dalam jurnal Nature, para peneliti menilai 10.196 spesies reptil dan mengevaluasinya menggunakan kriteria Daftar Merah spesies terancam dari International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Mereka menemukan bahwa setidaknya 1.829 (21 persen) spesies rentan, terancam punah, atau sangat terancam punah. Neil Cox, yang mengelola Unit Penilaian IUCN dan ikut memimpin penelitian menyebut ini sudah melebihi jumlah spesies yang rentan.

"Sekarang kita tahu ancaman yang dihadapi setiap spesies reptil, komunitas global dapat mengambil langkah berikutnya - dan berinvestasi dalam membalikkan krisis keanekaragaman hayati yang kurang dihargai dan semakin parah," kata Cox.

Diungkapkan, buaya dan penyu ditemukan di antara spesies yang paling berisiko, dengan masing-masinya sekitar 58 persen dan 50 persen dari label kepunahan yang diperkirakan saat ini. Cox mengatakan, hal ini juga tidak bisa dilepas akibat eksploitasi berlebihan dan perburuan.

Buaya dibunuh untuk diambil dagingnya dan dianiaya karena masuk ke pemukiman warga. Sementara penyu menjadi sasaran perdagangan hewan peliharaan dan dagingnya kerap digunakan sebagai bahan utama pengobatan tradisional.

Spesies terkenal lainnya yang berisiko mengalami kepunah adalah king cobra yang merupakan ular paling berbisa di dunia. King cobra diklasifikasikan sebagai rentan dan menunjukkan bahwa ular yang satu ini sangat dekat dengan kepunahan.

Bruce Young, kepala zoologi di NatureServe, yang ikut memimpin penelitian, mengatakan reptil yang terancam sebagian besar ditemukan terkonsentrasi di Asia Tenggara, Afrika Barat, Madagaskar utara, Andes Utara, dan Karibia.

Perubahan iklim ditemukan menimbulkan ancaman langsung bagi sekitar 10 persen spesies reptil, meskipun para peneliti menilai kemungkinan itu terlalu rendah karena tidak memperhitungkan ancaman jangka panjang seperti atas kenaikan permukaan laut, atau bahaya tidak langsung yang didorong oleh iklim dari hal-hal seperti penyakit.

Para peneliti pun terkejut menemukan kalau konservasi yang ditujukan untuk mamalia, burung, dan amfibi juga bermanfaat bagi reptil, meskipun mereka menekankan jika penelitian tersebut menyoroti perlunya konservasi mendesak khusus untuk beberapa spesies.

Young berpendapat, penilaian reptil yang melibatkan ratusan ilmuwan dari seluruh dunia, membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk diselesaikan karena kurangnya dana. Ia berharap penelitian dapat membantu memacu dunia internasional untuk menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati.

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini