Share

Penyebab Fenomena Langit Berwarna Merah di Tiongkok, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Selasa 10 Mei 2022 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 10 56 2591635 penyebab-fenomena-langit-berwarna-merah-di-tiongkok-ini-penjelasan-ilmiahnya-mMlhlVQefb.jpg Penyebab fenomena langit berwarna merah di Tiongkok, ini penjelasan ilmiahnya (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Fenomena langit berwarna merah di Tiongkok merupakan kejadian langka, peristiwa ini juga tampak menyeramkan karena menampilkan "langit darah."

Dikutip dari Global Times, Selasa (10/5/2022), fenomena yang muncul di langit daerah Zhoushan, Tiongkok, pada Sabtu kemarin ini diabadikan penduduk setempat.

Mengingat penampakan "langit darah" ini terbilang langka, kejadian tersebut sempat menjadi trending topic di media sosial Weibo, diketahui sudah disaksikan lebih dari 150 juta kali, terhitung sehari setelah kejadian.

"Saya belum pernah melihat yang seperti ini. Sungghuh mengherankan bahwa langit bahkan bisa berubah menjadi merah," kata salah satu penggunggah di Weibo.

Lantas, apa penyebab terjadinya fenomena langit berwarna merah di Tiongkok? Simak penjelasan ilmiahnya berikut.

Biro Meteorologi setempat pada Minggu kemarin telah mengonfirmasi, jika fenomena itu benar-benar terjadi dan bukan sebuah hoaks.

Mereka menyampaikan, fenomena langit merah tersebut disebabkan oleh pembiasan dan hamburan cahaya, di mana kemungkinan besar dari lampu kapal di pelabuhan.

Di hari kejadian, cuaca sedang berkabut, berawan, serta gerimis. Biro Meteorologi Zhoushan menerangkan, kondisi demikian bisa disebabkan oleh pantulan cahaya dari awan tingkat rendah.

"Ketika kondisi cuaca bagus, lebih banyak air di atmosfer membentuk aerosol yang membiaskan dan menyebarkan cahaya kapal penangkap ikan dan membuat langit merah terlihat oleh publik," jelas staf biro meteorologi.

Sementara itu, beberapa pengguna internet mengingat fenomena langit merah darah pernah muncul selama sembilan hari di banyak negara pada 1770.

Hal itu, diklaim oleh ilmuwan Jepang dalam sebuah artikel akademis pada 2017 bahwa itu disebabkan oleh aktivitas Matahari yang masif.

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini