Share

Mengapa Ongkos Wisata ke Luar Angkasa Begitu Malah?

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Selasa 10 Mei 2022 13:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 10 56 2591717 mengapa-ongkos-wisata-ke-luar-angkasa-begitu-malah-br13pRhGMD.jpg Mengapa ongkos wisata ke luar angkasa begitu mahal? (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Jika Anda ingin terbang ke luar angkasa, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, tetapi membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Dilansir dari SlashGear, Selasa (10/5/2022), cara bersejarah pernah digunakan oleh turis luar angkasa pertama, yakni melalui badan antariksa Rusia Roscomos, mengendarai roket Soyuz seharga sekitar Rp290 juta per tiket.

Begitulah cara jutawan AS Dennis Tito menjadi turis pertama di luar angkasa, ia melakukan perjalanan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2001.

Beberapa orang mengikuti jejaknya, termasuk jutawan Afrika Selatan Mark Shuttleworth pada 2002, yang dikenal karena karyanya dengan OS Ubuntu berbasis Linux, dan Anousheh Ansari pada 2006, wanita pertama yang terbang sebagai turis luar angkasa.

Dengan meningkatnya partisipasi swasta di sektor ini, pariwisata luar angkasa dimulai secara besar-besaran pada tahun 2021. Blue Origin, Virgin Galactic, dan SpaceX memimpin dengan perjalanan yang lebih murah, tetapi nilainya masih sangat mahal.

Virgin Galactic sendiri, menyediakan kursi ke luar angkasa untuk masyarakat sipil, dalam bentuk perjalanan pribadi hanya untuk orang-orang terkaya di dunia untuk saat ini.

Globe Trender melaporkan, pada Agustus 2021 Virgin Galactic menaikkan harganya dari sekitar Rp3,6 miliar menjadi senilai Rp6,5 miliar. Sedangkan, harga kursi Blue Origin dan SpaceX masih misterius.

Inverse melaporkan, biaya perjalanan SpaceX Dragon Crew mencapai lebih dari Rp799 miliar.

Sementara itu, BBC Science Focus memberikan jawaban singkat dan lugas tentang mengapa wisata luar angkasa begitu mahal, dengan menyatakan bahwa propulsi berbasis bahan kimia adalah faktor terbesar di balik tarif ini.

Dijelaskan, secara teoritis bahan bakar roket yang dibutuhkan untuk menempatkan sesuatu di orbit adalah 10 sampai 25 kali massanya.

Pertimbangan ini begitu brutal, sehingga NASA menyebutnya sebagai "Persamaan Tirani Roket".

Semakin banyak berat dan massa yang ditambahkan ke pesawat ruang angkasa, semakin banyak bahan bakar yang dibutuhkan, dan karena itu semakin berat, ini menciptakan siklus inkremental yang mendorong biaya naik.

Scientific American menerangkan, bahan bakar roket bisa berbentuk padat, cair, atau gas.

SpaceX mengungkapkan jika mereka menggunakan oksigen cair dan propelan RP-1 minyak tanah tingkat roket untuk memberi daya pada mesin Merlin yang mendorong Falcon 9 ke luar angkasa.

Namun, bahkan biaya bahan bakar ini tidak mencapai bagian yang signifikan dari biaya untuk membangun roket. Roket yang dapat digunakan kembali memang menurunkan biaya, tetapi tidak 100 persen dapat digunakan kembali.

Selain itu, membawa kru membutuhkan kapsul yang juga mahal untuk dibangun. Peluncuran, pelatihan, tenaga kerja, dan pengoperasian misi juga merupakan biaya yang pada akhirnya mempengaruhi harga tiket ke luar angkasa.

Ada masalah lain yang mempengaruhi biaya dalam industri luar angkasa. Pada 23 Maret 2022, CNBC melaporkan kalau SpaceX telah menaikkan harga semua peluncurannya karena harga bahan bakar mengalami kenaikan dan terjadi inflasi.

Biaya untuk peluncuran Falcon 9 ditetapkan sebesar Rp974 miliaran, dan misi Falcon Heavy mencapai lebih dari Rp1,4 triliun.

Satelit kecil yang diluncurkan di bawah program rideshare juga mengalami peningkatan, dengan harga naik menjadi setara Rp15,9 miliar untuk muatan 200 kilogram dan biaya tambahan sekitar Rp79,9 juta per kilo.

Kesimpulannya, pertimbangan teori persamaan roket, biaya bahan bakar, biaya konstruksi dan operasi, dan isu-isu seperti inflasi adalah alasan mengapa tiket wisata luar angkasa begitu mahal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini