Share

Twitter Hadirkan Label Peringatan untuk Konten Sesat Soal Konflik Rusia-Ukraina

Antara, Jurnalis · Jum'at 20 Mei 2022 10:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 20 57 2597200 twitter-hadirkan-label-peringatan-untuk-konten-sesat-soal-konflik-rusia-ukraina-KqrpOjBSiO.jpg Twitter hadirkan label peringatan untuk konten sesat soal konflik Rusia-Ukraina (Foto: TechCrunch/Bryce Durbin)

JAKARTA - Twitter dilaporkan akan mulai menghadirkan label peringatan untuk beberapa konten yang dinilai menyesatkan, hal ini terkait konflik antara Rusia dengan Ukraina.

Dikutip dari Reuters, Jumat (20/5/2022), media sosial satu ini juga bakal membatasi penyebaran klaim yang dibantah oleh kelompok kemanusiaan atau sumber kredibel lainnya.

Label peringatan itu, akan mengingatkan pengguna bahwa cuitan yang bersangkutan telah melanggar aturan Twitter.

Orang-orang masih dapat melihat dan mengomentari cuitan tersebut, tetapi fitur retweet akan dinonaktifkan.

"Pendekatan itu, bisa menjadi cara yang lebih efektif untuk mencegah bahaya, sambil tetap menjaga dan melindungi (kebebasan) berbicara di Twitter," kata kepala keamanan dan integritas Twitter, Yoel Roth.

Dijelaskan bahwa Twitter akan memprioritaskan pemberian label pada cuitan menyesatkan dari akun dengan profil tinggi.

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

Contohnya, yakni pengguna yang terverifikasi atau mendapatkan centang biru, hingga profil resmi pemerintah.

Diketahui, Twitter memang tengah menerapkan kebijakan baru untuk mengatasi penyebarluasan informasi yang salah, termasuk seputar invasi Rusia ke Ukraina.

Twitter mengatakan, pihaknya mendefinisikan krisis sebagai situasi di mana ada ancaman yang dapat berdampak pada kehidupan, keselamatan fisik, kesehatan, atau penghidupan dasar.

Kebijakan itu, awalnya akan fokus pada konflik bersenjata internasional, kemudian nantinya akan ditujukan untuk peristiwa lain seperti penembakan massal atau bencana alam.

"Garis waktu untuk pekerjaan ini, dimulai sebelum perang di Ukraina pecah. Kebutuhan akan kebijakan ini menjadi sangat jelas ketika konflik di Ukraina berlangsung," ujar Roth.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini