Share

Fenomena Ikan Mabuk di Sungai Brantas, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Rabu 25 Mei 2022 12:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 56 2599983 fenomena-ikan-mabuk-di-sungai-brantas-apa-yang-sebenarnya-terjadi-yCij9PBosD.jpg Fenomena ikan mabuk di Sungai Brantas, apa yang sebenarnya terjadi? (Foto: Kominfo Jatim)

JAKARTA - Fenomena ikan mabuk di Sungai Brantas kembali terjadi. Tampak ikan mati massal sebanyak ribuan ekor di antara Kabupaten Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya

Dilansir dari laman Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur, Rabu (25/5/2022), ikan-ikan mabuk atau mati (munggut) tersebut ditemukan pada Senin kemarin sejak pukil 05.00 WIB di Desa Cangkir hingga wilayah Warugunung Kota Surabaya.

Kabar itu, berdasarkan keterangan Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) yang mendapatkan laporan dari warga setempat.

Adapun jenis ikan yang ditemukan mati di antaranya ikan rengkik, keting, bader, nila, dan mujair.

Informasi ini, bermula dari seorang warga Desa Bambe Driyorejo Gresik, Habib, disebutkan sekitar pukul 06.30 WIB dirinya pergi mendatangi sungai setelah mendengar kabar dari pamannya bahwa telah banyak warga yang sudah berkumpul di lokasi.

“Warga sudah banyak di lokasi. Munggut ini termasuk paling parah dan besar menurut saya setelah dua tahun lalu karena tingkat cemarannya sampai ke bawah dan kontaminasi hingga ikan besarnya. Bau sungai amis seperti bau micin, aliran sungai sedikit berminyak dan lengket,” ujarnya.

Menurut catatan Ecoton, peristiwa seperti ini bukan kali pertama terjadi di Sungai Surabaya, peristiwa ini pasti datang setiap tahun dan tidak ada penyelesaian.

Manager Kampanye Ecoton, Diki Dwi Cahya menyebutkan, kali ini cukup banyak ikan yang mati mulai dari ikan yang kecil bahkan yang sangat besar.

Pihaknya menduga, peristiwa ini akibat limbah industri karena jika dilihat dari dampaknya yang sangat besar bagi sungai dan kematian ikan yang sangat banyak.

Baca Juga: Kawal Pengembangan Kampung Perikanan Budidaya, KKP Siapkan Pengawas Perikanan Andal

“Rengkik dan mujair sangat besar, sudah lama saya tidak melihat tangkapan ikan sebesar ini selama beberapa tahun terakhir, berarti fenomena ikan mabuk ini sangat besar, menurut saya jika terus begini kelestarian lingkungan kali Surabaya bisa terancam serta membuat induk ikan akan mati dan bisa menyebabkan kepunahan.” tegas dia.

Ia menambahkan, pihaknya juga meminta masyarakat untuk waspada dan berhati-hati dalam mengkonsumsi ikan mati hasil tangkapan. Ikan-ikan tersebutm diduga terindikasi tercemar kandungan racun dan bahan berbahaya.

Selain itu, ia juga mengatakan, air Sungai Surabaya juga merupakan bahan baku PDAM Surabaya, Gresik dan Sidoarjo, karena lokasi ikan munggut mendekati Intake PDAM Surabaya hal itu akan mengakibatkan penurunan kualitas air sungai.

Seperti diketahui, sungai adalah rumah ikan. Jika ikan-ikan tersebut mati dalam kondisi yang tidak wajar dan dengan jumlah yang banyak, dikhawatirkan ikan-ikan tidak dapat hidup dan terjadi kepunahan ikan.

Peristiwa ikan mati massal akan terus terulang jika tidak ada upaya serius atau penegakan hukum bagi Industri yang membuang limbah cairnya.

“Jika Peristiwa ikan mati massal terus terulang, akan lebih baik membuat program pemulihan bersama dari pada mengambil upaya hukum banding, tetapi peristiwa ikan mati massal terus terjadi,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini