Share

Tanah Antartika Mengandung Bakteri yang Kebal Antibiotik, Berpotensi Tersebar ke Seluruh Dunia

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Selasa 31 Mei 2022 09:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 31 56 2602974 tanah-antartika-mengandung-bakteri-yang-kebal-antibiotik-berpotensi-tersebar-ke-seluruh-dunia-5PNbcQwuio.jpg Tanah Antartika mengandung bakteri yang kebal antibiotik, berpotensi tersebar ke seluruh dunia (Foto: Reuters)

JAKARTA - Studi baru mengungkapkan, bakteri “hiper-resisten” yang berpotensi mampu melawan antibiotik telah ditemukan di tanah Antartika.

Disadur dari IFLScience, Selasa (31/5/2022), meskipun ancaman itu tidak segera terjadi, para peneliti memperingatkan bahwa bakteri ini berpotensi menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia global di tahun-tahun mendatang.

Apalagi, jika Antartika terus terancam oleh krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Science of the Total Environment, para ilmuwan dari University of Chile menjelaskan bagaimana mereka mengumpulkan sampel tanah dari Semenanjung Antartika antara 2017 hingga 2019.

Ketika mereka kembali ke lab, mereka terkejut dengan keragaman mikroorganisme di sana, dan ditemukan hidup di dalam tanah yang keras.

Di antara mikroorganisme, terdapat gen yang bisa memberikan resistensi terhadap beberapa antibiotik dan zat antimikroba lainnya, seperti tembaga dan klorin.

Gen tersebut, ditemukan dalam berbagai genera bakteri, termasuk Polaromonas, Pseudomonas, Streptomyces, Variovorax, dan Burkholderia.

Yang mengkhawatirkan, ada juga bukti gen yang memungkinkan mekanisme yang belum pernah terlihat sebelumnya untuk melawan antibiotik.

Studi ini menunjukkan, ada bakteri dari kelompok Polaromonas mampu memompa keluar enzim dengan potensi untuk menonaktifkan antibiotik tipe beta-laktam, di mana penting untuk pengobatan berbagai infeksi.

Resistensi antibiotik secara signifikan dipercepat oleh penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan. Tetapi, bakteri juga dapat mengembangkan mekanisme resistensi antibiotik secara alami.

Para peneliti dari studi terbaru ini berpendapat, gen resistensi antibiotik yang mereka temukan kemungkinan besar merupakan hasil dari bakteri yang beradaptasi dengan kondisi ekstrem Antartika.

Dr Andrés Marcoleta, pemimpin studi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Chili, menjelaskan bahwa resistensi antibiotik ini bagian dalam "fragmen seluler" DNA yang bisa dengan mudah diteruskan ke bakteri lain melalui transfer gen horizontal.

“Gagasan bahwa gen ini pada akhirnya dapat menjadi bakteri yang menyebabkan infeksi pada manusia atau hewan lain, memberi mereka kemampuan resistensi yang lebih besar, tampaknya tidak masuk akal,” kata Dr Marcoleta dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan, penelitian ini seharusnya tidak memicu kepanikan dulu. Tetapi, dia menyoroti bagaimana potensi ancaman yang ditimbulkan oleh bakteri resisten antibiotik di Antartika menjadi lebih mungkin karena aktivitas manusia menjadi beban di benua itu.

“Kita tahu bahwa ada kunjungan orang yang semakin sering dan masif antara Semenanjung Antartika dan bagian dunia lainnya, terutama melalui Chili. Ini menghasilkan peluang potensial untuk kontak antara mikroorganisme yang menginfeksi manusia dan yang secara alami menghuni tanah Benua Putih,” lanjut Marcoleta.

“[Pandemi COVID-19] telah mengajarkan kita bahwa mikroorganisme, dan khususnya patogen, dapat menyebabkan efek dengan jangkauan global. Dalam hal ini, patut dipertanyakan apakah perubahan iklim dapat berdampak pada terjadinya penyakit menular,” Marcoleta memperingatkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini