Share

China Berhasil Lahirkan Babi Pertama di Dunia yang Dikloning Robot

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Jum'at 03 Juni 2022 15:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 56 2605103 china-berhasil-lahirkan-babi-pertama-di-dunia-yang-dikloning-robot-BNboPiBycO.jpg China berhasil lahirkan babi pertama di dunia yang dikloning robot (Foto: Mashable)

JAKARTA - Peneliti China dari Universitas Nankai dilaporkan telah menemukan cara baru untuk mengkloning babi, di mana sepenuhnya melalui penggunaan robot.

Diolah dari Mashable, Jumat (3/6/2022), capaian ini dinilai berpotensi menandakan kebangkitan kloning hewan secara otomatis, dan menunjukkan kemajuan di bidangnya.

Prestasi itu, berhasil dicapai ketika induk babi pengganti yang terletak di universitas berhasil melahirkan tujuh babi kloning pada bulan Maret silam.

"Setiap langkah proses kloning dilakukan secara otomatis, dan tidak ada manusia yang terlibat," kata Liu Yaowei, yang berkontribusi pada pengembangan sistem dan prosesnya.

Sebelumnya, universitas telah berhasil menghasilkan anak babi yang dikloning menggunakan robot, tetapi banyak bagian dari proses yang masih melibatkan manusia, dan terkait dengan margin kesalahan yang lebih tinggi.

Namun, sejak itu tim peneliti berhasil meningkatkan algoritmenya untuk memungkinkan proses yang sepenuhnya dikelola dan dijalankan oleh robot.

"Sistem bertenaga AI kami dapat menghitung ketegangan di dalam sel dan mengarahkan robot untuk menggunakan kekuatan minimal untuk menyelesaikan proses kloning, yang mengurangi kerusakan sel yang disebabkan oleh tangan manusia," ujar Liu.

Perkembangan baru ini, bisa memungkinkan China menawarkan metode yang sangat disambut baik untuk pengadaan daging babi mereka.

Sebagai konsumen daging babi terbesar di dunia, negara ini selama bertahun-tahun mengandalkan impor babi murni hasil pembiakan, yang dapat menimbulkan biaya relatif besar.

Pan Dengke, mantan peneliti Akademi Ilmu Pertanian China yang juga membantu memproduksi babi kloning pertama di negara itu pada tahun 2015, mengatakan bahwa sistem baru ini bisa revolusioner jika berhasil didistribusikan dalam skala besar.

Dia menyebutkan, transfer inti sel somatik (cara tradisional kloning) relatif lebih membosankan dan memakan waktu dibandingkan dengan sistem baru ini.

Sebelum ini, Pan telah bekerja untuk membuat lebih dari 1.000 klon setiap hari, yang menyebabkan dia menderita sakit punggung akibat sulitnya proses tradisional.

Namun, karena proses baru menggunakan robot, tingkat keberhasilan proses kloning lebih tinggi karena tingkat sel yang rusak lebih rendah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini