Share

Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Luar Angkasa Akan Meluncur

Tangguh Yudha, Jurnalis · Rabu 08 Juni 2022 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 08 56 2607957 pembangkit-listrik-tenaga-surya-di-luar-angkasa-akan-meluncur-xD6IZGK5Ir.jpg Pembangkit Listrik Tenaga Surya di luar angkasa akan meluncur (Foto: Sky News)

JAKARTA - China berencana meluncurkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di luar angkasa, nantinya PLTS itu akan memancarkan energi ke Bumi.

Dilansir dari Sky News, Rabu (8/6/2022), PLTS ini dijadwalkan akan mulai diluncurkan pada 2028 mendatang. Dalam prosesnya, China akan lebih dulu meluncurkan satelit percobaan yang mengorbit pada ketinggian 400 km.

Satelit tersebut, bakal menguji teknologi yang digunakan untuk mengirimkan energi dari pembangkit listrik.

Dijelaskan, satelit itu mengubah energi Matahari menjadi gelombang mikro atau laser yang kemudian akan didistribusikan ke penangkap energi di berbagai lokasi di Bumi dan di satelit lainnya.

Intinya adalah satelit bakal mengumpulkan tenaga surya yang melimpah ini di orbit, dan memancarkannya dengan aman ke titik tetap di Bumi.

Rencana ini, dirinci dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Chinese Space Science and Technology. Menariknya, energi ini tidak hanya bisa digunakan di China, tetapi juga belahan Bumi lain.

Energi juga dapat diarahkan ke negara lain, baik sebagai ekspor energi, atau sebagai bagian dari bantuan pembangunan luar negeri, atau untuk mendukung daerah bencana kemanusiaan.

Tidak seperti sumber energi terbarukan terestrial yang ada di Bumi, PLTS yang mengorbit pun akan mampu memberikan energi siang dan malam tanpa terpengaruh oleh cuaca.

Meskipun begitu, Profesor Dong Shiwei selaku penulis jurnal Chinese Space Science and Technology mengatakan, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi dan ini belum terpecahkan.

Tantangannya adalah bagaimana mengarahkan gelombang mikro bertenaga tinggi pada jarak yang signifikan akan membutuhkan antena yang sangat besar, berpotensi panjangnya ribuan meter.

Sementara angin, Matahari, gravitasi, dan pergerakan satelit dapat mengganggu transmisi energi. Inilah yang hingga saat ini masih dicari solusinya oleh Profesor Dong Shiwei.

Namun, terlepas dari tantangan tersebut, PLTS sudah direncanakan akan dibangun di stasiun luar angkasa yang mengorbit dalam empat tahap.

Dua tahun setelah peluncuran uji pertama, pada tahun 2030, China akan meluncurkan pembangkit listrik yang lebih kuat ke orbit geosinkron 36.000 km.

Sementara stasiun uji akan memiliki output daya 10 kilowatt, pembangkit listrik yang lebih besar akan mampu mendistribusikan 10 megawatt ke pengguna militer dan sipil tertentu pada tahun 2035.

Teknologinya diproyeksikan akan hadir pada tahun 2050, dan menjadi cukup besar untuk output sekitar dua gigawatt, setara dengan output pembangkit listrik terestrial di Inggris.

Untuk diketahui, proyek energi serupa sebenarnya juga telah diusulkan oleh NASA lebih dari dua dekade lalu, tetapi tidak pernah dikembangkan hingga saat ini.

Pemerintah Inggris juga sudah memerintahkan untuk melakukan penelitian independen untuk menghadirkan proyek serupa, dengan nilai penelitian mencapai £16 miliar atau Rp247 triliun yang diharapkan selesai pada tahun 2035.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini