Share

Langka, Fenomena Bulan Baru Mikro Diapit 2 Kali Supermoon Akan Terjadi

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2022 13:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 10 56 2609180 langka-fenomena-bulan-baru-mikro-diapit-2-kali-supermoon-akan-terjadi-3lilfKPcfI.jpg Langka, fenomena Bulan Baru Mikro diapit 2 kali Supermoon akan terjadi (Foto: NASA/Bill Dunford)

JAKARTA - Fenomena Bulan Baru Mikro diapit 2 kali Supermoon akan terjadi, di mana termasuk peristiwa langka karena berlangsung 9 tahun sekali.

Dilansir dari laman EDUSAINSA LAPAN (BRIN), Jumat (10/6/2022), hal ini disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, yakni Andi Pangeran.

"Fenomena ini terakhir terjadi pada 2004 dan 2013, sehingga berlangsung setiap 9 tahun sekali, akan berlangsung kembali pada 2031 dan 2040," kata Andi.

Andi menjelaskan, fenomena Bulan Baru Mikro diapit 2 Supermoon ini berlangsung pada 29 Juni 2022 mendatang, pada pukul 09.52 WIB, 10.52 WITA, atau 11.51 WIT.

Kemudian, pada 14 Juli 2022, pukul 01.57 WIB, 02.57 WITA, atau 03.57 WIT. Kali ini bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia.

"Untuk Bulan Baru Mikro, saat pagi hari sebelum Matahari terbit tidak dapat disaksikan," ungkapnya.

Dia menerangkan, hal itu karena Bulan terbit lebih lambat dibandingkan dengan Matahari, lalu permukaan Bulan yang mengjadap ke Bumi tidak terkena cahaya Matahari sehingga Bulan tampak gelap.

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

"Bulan Baru Mikro ini juga bertepatan dengan Ijtimak atau Konjungsi Awal Bulan Zulhijjah 1443 H," papar dia.

Artinya, sambung Andi, jika hilal dapat terlihat, maka 1 Zulhijjah 1443 H akan jatuh pada Kamis, 30 Juni 2022 dan Idul Adha jatuh pada Sabtu, 9 Juli 2022.

Kendati demikian, jika hilal tidak dapat terlihat, maka Zulqaidah 1443 H digenapkan 30 (istikmal) sehingga 1 Zulhijjah 1443 H akan jatuh pada Jumat, 1 Juli 2022 dan Idul Adha jatuh pada Minggu, 10 Juli 2022.

Sebagaimana halnya fase Purnama maupun fase Bulan Baru pada umumnya, fenomena Bulan Baru Mikro ini dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasanya.

Pasang laut ini, disebut juga sebagai pasang purnama. Ini karena konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau Matahari-Bulan-Bumi yang segaris dan mengakibatkan masing-masing gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh Bulan dan Matahari karena memilki arah yang sama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini