Share

Pemerintah Izinkan Satelit Starlink Elon Musk Beroperasi di Indonesia

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Senin 13 Juni 2022 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 13 54 2610876 pemerintah-izinkan-satelit-starlink-elon-musk-beroperasi-di-indonesia-2o0vFta170.jpg Pemerintah izinkan satelit Starlink Elon Musk beroperasi di Indonesia (Foto: SCMP)

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memberikan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO) Starlink, milik Elon Musk, kepada PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat).

Juru Bicara Kementerian Kominfo, Dedy Permadi, mengatakan bahwa Hak Labuh Starlink, hanya berlaku untuk layanan backhaul dalam penyelenggaraan jaringan tetap tertutup PT. Telkom Satelit Indonesia.

"Bukan untuk layanan retail pelanggan akses internet secara langsung oleh Space Exploration Technologies Crop (Starlink)," kata Dedy, dalam keterangan pers, dikutip Senin (13/6/2022).

Dedy menjelaskan, backhaul adalah teknologi yang memfasilitasi perpindahan data dari satu infrastruktur telekomunikasi ke telekomunikasi lainnya.

Teknologi ini, sambung dia, dapat digunakan untuk mendukung penyediaan layanan broadband internet terutama selular 4G, terutama di daerah rural yang belum tersambung secara langsung dengan kabel serat optik.

Diketahui, layanan satelit Starlink hanya dapat beroperasi jika pembangunan Gateway Station - Teresterial Component untuk menerima layanan kapasitas Satelit Starlink serta pengurusan Izin Stasiun Radio (ISR) Satelit Starlink telah dirampungkan oleh Telkomsat.

"Sebagai pemegang eksklusif atas Hak Labuh Satelit Starlink maka Telkomsat berhak mendapatkan layanan backhaul satelit," ujarnya.

Dia menegaskan, operasional pemanfaatan layanan Starlink oleh Telkomsat wajib tunduk pada regulasi yang berlaku, termasuk pemenuhan kewajiban hak labuh.

"Izin hak labuh, akan dievaluasi setiap tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi dan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku," papar dia.

Sementara itu, dijelaskan bahwa Hubungan perdagangan bilateral di sektor telekomunikasi dan digital antara Indonesia dan Amerika Serikat berkembang pesat.

Kerjasama kedua negara tersebut, kata Dedy, juga mencakup rencana Indonesia untuk memiliki 3 satelit generasi terbaru yakni:

1. 150 Gb Very High Throughput Satellite (VHTS) diberi nama SATRIA (Ka- Band)

2. 80 Gb Very High Throuhput Satellite (VHTS) sebagai Hot Backup Satellite (Ka-band)

3. 32 Gb High Throughput Satellite (HTS) yg di miliki Telkomsat (C & Ku- band).

"Ketiga satelit ini, direncanakan akan menggunakan roket peluncur SpaceX - Falcon 9 dan merupakan jenis satelit yg mengorbit di Geo stationer Orbit," ungkap Dedy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini