Share

Sekelompok Insinyur dan Ilmuwan Berhasil Ciptakan Baja Ramah Lingkungan

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2022 18:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 21 56 2615588 sekelompok-insinyur-dan-ilmuwan-berhasil-ciptakan-baja-ramah-lingkungan-rmiAo2EJbY.jpg Sekelompok insinyur dan ilmuwan berhasil ciptakan baja ramah lingkungan (Foto: Getty Images)

JAKARTA - Sekelompok insinyur dan ilmuwan di Woburn, Massachusetts, pinggiran kota di utara Boston, dilaporkan telah berhasil menciptakan baja yang ramah lingkungan.

Dilansir dari Ars Technica, Selasa (21/6/2022), memanfaatkan listrik untuk memisahkan besi dari bijinya, diklaim dapat membuat baja tanpa melepaskan karbon dioksida. Menawarkan jalan untuk membersihkan salah satu industri terburuk di dunia dari emisi gas rumah kaca.

Sebagai input penting untuk rekayasa dan konstruksi, baja adalah salah satu bahan industri paling populer di dunia, dengan lebih dari 2 miliar ton diproduksi setiap tahunnya. Kelimpahan baja ini, bagaimanapun datang dengan harga yang mahal untuk lingkungan.

Selanjutnya pembuatan baja menyumbang 7 hingga 11 persen dari emisi gas rumah kaca global, menjadikannya salah satu sumber polusi atmosfer industri terbesar. Hal ini karena produksi bisa naik sepertiga pada tahun 2050, beban lingkungan ini bisa bertambah.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, pengurangan emisi karbon industri secara signifikan sangat penting, yakni untuk menjaga pemanasan global di bawah angka 1,5 Celcius yang ditetapkan berdasarkan perjanjian iklim Paris 2015.

Guna mencapai target itu, emisi dari baja dan industri berat lainnya harus turun 93 persen pada tahun 2050, ini diperkirakan oleh Badan Energi Internasional.

Menghadapi tekanan yang meningkat dari pemerintah dan investor untuk mengurangi emisi, sejumlah pembuat baja, termasuk produsen besar dan perusahaan rintisan, bereksperimen dengan teknologi rendah karbon yang menggunakan hidrogen atau listrik alih-alih manufaktur padat karbon tradisional.

“Apa yang kita bicarakan adalah industri padat modal dan menghindari risiko di mana gangguan sangat jarang terjadi,” kata Chris Bataille, ekonom energi di IDDRI, sebuah think tank penelitian yang berbasis di Paris.

Pembuatan baja modern melibatkan beberapa tahap produksi. Paling umum, biji besi dihancurkan dan diubah menjadi sinter (padatan kasar) atau pelet.

Secara terpisah, batu bara dipanggang dan diubah menjadi kokas. Biji dan kokas kemudian dicampur dengan batu kapur dan dimasukkan ke dalam tanur sembur besar di mana aliran udara yang sangat panas dimasukkan dari bawah.

Di bawah suhu tinggi, kokas terbakar dan campurannya menghasilkan besi cair, yang dikenal sebagai besi kasar atau besi tungku ledakan. Bahan cair kemudian masuk ke tungku oksigen, di mana itu meledak dengan oksigen murni melalui tombak berpendingin air, yang memaksa karbon untuk meninggalkan baja mentah sebagai produk akhir.

Metode ini pertama kali dipatenkan oleh insinyur Inggris Henry Bessemer pada tahun 1850-an, menghasilkan emisi karbon dioksida dengan cara yang berbeda. Pertama, reaksi kimia di tanur sembur menghasilkan emisi, karena karbon yang terperangkap dalam kokas dan batu kapur berikatan dengan oksigen di udara untuk menciptakan karbon dioksida sebagai produk sampingan.

Selain itu, bahan bakar fosil biasanya dibakar untuk memanaskan tanur sembur dan untuk menyalakan pabrik sintering dan pelet, serta oven kokas, yang memancarkan karbon dioksida dalam prosesnya.

Sebanyak 70 persen baja dunia diproduksi dengan cara ini, menghasilkan hampir dua ton karbon dioksida untuk setiap ton baja yang diproduksi. 30 persen sisanya hampir semuanya dibuat melalui tanur busur listrik, yang menggunakan arus listrik untuk melelehkan baja, sebagian besar skrap daur ulang dan memiliki emisi CO₂ yang jauh lebih rendah daripada tanur sembur.

Oleh karena itu dengan metode tersebut diharapkan dapat membuat baja ramah lingkungan, serta kandungan karbon dioksida yang biasa dihasilkan oleh pembuatan baja tersebut bisa lebih ditekan. Sehingga nantinya udara yang diperoleh bisa lebih bersih, dan pembuatan baja bisa terus dilakukan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini