Share

Ahli Meteorologi Nilai Cuaca Ekstrem Tahun Ini Baru Dimulai

Christabel Reviana Kusuma Putri, Jurnalis · Rabu 22 Juni 2022 11:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 22 56 2615885 ahli-meteorologi-nilai-cuaca-ekstrem-tahun-ini-baru-dimulai-X519qodQmy.jpg Ahli meteorologi nilai cuaca ekstrem tahun ini baru dimulai (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Tahun 2022 telah menimbulkan banyak bencana seperti banjir skala besar, kebakaran hutan yang mengerikan, dan gelombang panas.

Terutama di India dan Pakistan, Eropa, Amerika Serikat, dan sebagian Asia Timur. Badai es secara mengejutkan menghantam Jerman dan Mexico City.

Dilansir dari Wired, Rabu (22/6/2022), dan para tenaga ahli prakiraan cuaca Amerika Serikat memperkirakan musim badai tahun ini akan berada di atas normal.

Ahli meteorologi mengatakan, peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi saat ini sangat meresahkan. Memang, 2022 belum menjadi tahun terburuk dalam catatan cuaca ekstrem.

Namun, dampak perubahan iklim yang cepat sudah bisa dirasakan dan efeknya memengaruhi cuaca lainnya.

“Ada banyak hal luar biasa yang terjadi, dan hal-hal tersebut tidak umum sama sekali,” kata Paul Pastelok, kepala prakiraan cuaca di AccuWeather.

Peneliti di Departemen Ilmu Atmosfer Colorado State University, Phil Klotzbach, menyampaikan bahwa penyebab utama dari perubahan cuaca adalah La Nina.

Klotzbach berpendapat, siklus fenomena cuaca alami La Nina ini menghasilkan suhu lebih dingin di Samudra Pasifik dan hangat di Samudra Atlantik.

La nina memengaruhi cuaca, tidak hanya pada angin topan, tetapi memperburuk kekeringan di Barat Daya Amerika Serikat.

"Pada akhirnya, campuran kuat dari efek perubahan iklim dan variabilitas alam sedang melanda beberapa bagian dunia saat ini," tegasnya.

Lektor Ilmu Iklim di Institut Grantham untuk Perubahan Iklim dan Lingkungan, Imperial College, London, Friederike Otto mengutarakan bahwa peristiwa cuaca paling mematikan di banyak bagian dunia adalah gelombang panas.

"Gelombang panas tahun ini terjadi di India, dengan panas mencapai 49,2 derajat Celcius pada bulan Mei, Prancis melaporkan pernah mencapai 40 derajat Celcius," terang Otto.

Sebagian besar Amerika Serikat, sambung dia, di mana 100 juta orang telah disarankan untuk tetap berada di dalam rumah. Otto menegaskan, kondisi ini sangat mengkhawatirkan.

"Masyarakat harus memastikan diri mereka tetap terhidrasi dan menghindari keluar saat cuaca sedang panas. Jika tidak memungkinkan sejuk di rumah, masyarakat dihimbau untuk mengakses penyejuk udara di dalam gedung. Kita harus menanggapi cuaca panas ini dengan serius,” tandas dia.

Otto mengingatkan, cuaca ekstrem tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga memiliki konsekuensi tidak langsung yang menghancurkan dalam skala internasional.

Ambil contoh gelombang panas baru-baru ini di India. Ini merusak tanaman gandum dan mendorong pemerintah negara itu untuk memberlakukan larangan ekspor gandum. tepat pada saat dunia kekurangan bahan makanan penting ini karena perang di Ukraina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini