Share

Eksperimen Rekayasa Genetik Gagal, Hamster Jadi Terlalu Agresif

Syifa Fauziah, Jurnalis · Senin 27 Juni 2022 13:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 27 56 2618925 eksperimen-rekayasa-genetik-gagal-hamster-jadi-terlalu-agresif-mkJZj9vWZP.JPG Eksperimen rekayasa genetik gagal, hamster jadi terlalu agresif (Foto: Adobe Stock)

JAKARTA - Sekelompok peneliti melakukan penyuntingan gen pada hamster agar tidak terlalu agresif. Mereka, menggunakan metode pengeditan CRISPR untuk menghilangkan gen yang diyakini bertanggung jawab atas perilaku agresif pada hamster.

Namun, hasil modifikasi genetik tersebut ternanya menimbulkan efek yang jauh berbeda. Alih-alih menjadi lebih jinak, hamster menjadi terlalu agresif.

Dilansir dari BGR, Senin (27/6/2022), para ilmuwan secara tidak sengaja membuat hamster yang disunting gen menjadi marah dan sangat agresif.

Diketahui, Hamster telah menjadi inti dari banyak penelitian hewan selama beberapa dekade. Itu karena hewan pengerat kecil berbulu ini memiliki organisasi sosial dan respons stres yang sangat mirip dengan manusia.

Karena itu, para ilmuwan telah menggunakan hewan pengerat untuk mencoba lebih memahami apa yang mengatur perilaku sosial seperti kemarahan, stres, dan sebagainya.

Beberapa dekade yang lalu, pada awal 1980-an, sekelompok peneliti menemukan bahwa hormon yang dikenal sebagai Arginine Vasopressin (AVP) dapat mengubah perilaku hamster.

Dari sini, para ilmuwan menggali lebih dalam perbedaan antara jenis kelamin hamster dan reseptor AVP, yang disebut Avpr1a. Hormon inilah yang diubah pada hamster kemudian dilakukan penyuntingan gen.

Sebelumnya, peneliti menemukan bahwa hamster jantan yang disuntik dengan aktivator Avpr1a menjadi lebih agresif, sedangkan hamster betina menjadi kurang agresif.

Sebagai alternatif, ketika menyuntikkan laki-laki dengan inhibitor Avpr1a, laki-laki menjadi lebih jinak, sementara perempuan menjadi agresif.

Baca Juga: Kawal Pengembangan Kampung Perikanan Budidaya, KKP Siapkan Pengawas Perikanan Andal

Penelitian lebih lanjut tentang respons hamster terhadap Avpr1a menunjukkan bagaimana ia mengatur agresi pada hewan pengerat.

Pada tahun 2007, tes lain dilakukan peneliti dalam menghapus gen Avpr1a pada tikus jantan. Mereka berharap untuk melihat penurunan agresif karena kurangnya sinyal AVP.

Namun, tikus tidak menunjukkan perbedaan tingkat agresif dibandingkan tikus normal. Sekarang, para peneliti telah menguji ide yang sama dengan menciptakan hamster yang disunting gen.

Para peneliti menggunakan CRISPR-Cas9 untuk menghilangkan gen reseptor Avpr1a pada hamster jantan dan betina. Seperti halnya tikus, mereka mengharapkannya untuk mengurangi tingkat agresif secara keseluruhan.

Kendati demikian, hipotesis itu tidak benar. Sebaliknya, hamster betina dan hamster jantan yang disunting gen keduanya menjadi lebih agresif. Mereka bahkan sampai menyerang hamster lain yang berjenis kelamin sama.

Bagi para peneliti, kasus ini sungguh membingungkan, terutama hampir empat dekade penelitian tentang bagaimana Avpr1a memengaruhi hewan-hewan ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini