Share

Waspada Dampak Fenomena Langka New Strawberry Micromoon yang Muncul Besok

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Selasa 28 Juni 2022 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 28 56 2619725 waspada-dampak-fenomena-langka-new-strawberry-micromoon-yang-muncul-besok-Uw1RrkY4BV.jpg Waspada dampak fenomena langka New Strawberry Micromoon yang muncul besok (Foto: Shutterstock/KAI AYASE)

JAKARTA - Fenomena langka New Strawberry Micromoon (Bulan Baru Stroberi Mikro) punya dampak bagi kehidupan di Bumi, dan patut untuk diwaspadai.

Diolah dari EDUSAINSA BRIN (LAPAN), Selasa (28/6/2022), dampak yang ditimbulkan sebagaimana halnya fase Purnama maupun fase Bulan Baru pada umumnya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangeran, mengatakan bahwa Bulan Baru Stroberi Mikro dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

"Pasang laut ini, disebut juga sebagai pasang purnama," kata Andi dalam keterangan resminya.

Andi menerangkan, hal ini bisa terjadi karena konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau Matahari-Bulan-Bumi yang segaris dan mengakibatkan masing-masing gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh Bulan dan Matahari memiliki arah yang sama.

Menurut dia, arah pada gaya diferensial berjumlah sepasang, menghadap atau searah dan membelakangi atau berlawanan arah terhadap objek yang menimbulkan gaya tersebut.

Meskipun konfigurasi Bulan berlawanan arah dengan Matahari seperti ketika terjadi Purnama, lanjutnya, tetapi gaya diferensial yang ditimbulkan oleh Bulan dan Matahari memiliki arah yang sama.

"Arah gaya diferensial yang sama inilah yang membuat resultan/total gaya diferensial yang ditimbulkan lebih besar dibandingkan dengan pasang perbani, yakni saat konfigurasi pada fase perbani/kwartir awal maupun akhir yang mana Matahari-Bumi-Bulan membentuk sudut siku-siku atau 90 derajat," papar dia.

Secara umum, gaya diferensial pasang purnama 27%-38% lebih besar dibandingkan saat pasang perbani jika diperbandingkan pada jarak yang sama.

Meskipun, saat Bulan Baru Stroberi Mikro, Bulan mencapai titik terjauh Bumi, sehingga mengalami pelemahan gaya sekitar 15,5 % dari gaya diferensial pada jarak rata-rata Bumi-Bulan.

Atas dasar itulah, Andi mengintatkan agar perlu diwaspadai pasang laut tertinggi saat 29 Juni besok, dan diimbau supaya para nelayan untuk tidak melaut antara dua hari sebelum hingga dua hari sesudah puncak fenomena ini, yaitu antara 27-1 Juli Juni.

"Perhitungan ini, semata-mata hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja dan tidak mempertimbangkan gelombang laut akibat badai angin," tegasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini