Share

Fosil Kanguru Purba Ditermukan di Papua, Lebih Besar dan Berotot

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 01 Juli 2022 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 01 56 2621584 fosil-kanguru-purba-ditermukan-di-papua-lebih-besar-dan-berotot-wLiW4DZtCT.JPG Fosil kanguru purba ditemukan di Papua, lebih besar dan berotot (Foto: Flinders University)

JAKARTA - Peneliti menemukan fosil kanguru purba berusia sekitar 50 ribu tahun di Papua Nugini. Ukurannya terbilang sangat besar dan lebih berotot.

Disadur dari Daily Mail, Jumat (1/7/2022), fosil ini ditemukan oleh peneliti dari Flinders University, kanguru tersebut dinamai Nombe nombe.

Spesies ini, diduga ada kaitannya erat dengan varietas Australia dan menariknya hanya ditemukan di Papua Nugini.

"Kami menganggap hewan-hewan ini unik dari Australia, tetapi mereka memiliki kehidupan lain yang menarik di Papua," kata Isaac Kerr, seorang peneliti.

Kanguru raksasa pertama kali dibicarakan pada tahun 1983 dan diketahui dari fosil yang berusia antara 20-50 ribu tahun.

Diketahui, fosil tersebut berasal dari Nombe Rockshelter, sebuah situs di Provinsi Chimbu yang dulunya merupakan hutan hujan yang beragam dengan semak belukar yang lebat dan kanopi yang tertutup.

Nombe berevolusi dan memiliki tulang rahang yang tebal dan otot mengunyah yang kuat, yang memungkinkannya memakan daun keras dari pohon dan semak belukar.

Kerr mengatakan, Fauna New Guinea sangat menarik, tetapi masih sedikit warga Australia yang memiliki banyak gagasan tentang apa yang sebenarnya ada di sana.

Ia melanjutkan, terdapat beberapa spesies ekidna besar, berhidung panjang, pemakan cacing yang masih ada sampai sekarang.

Tidak hanya itu, banyak spesies walabi dan possum berbeda yang tidak didapatkan di Australia, dan lebih banyak lagi yang masih ada dalam catatan fosil, di mana belum diketahui keberadaannya.

Untuk mengungkap keberadaan jejak hewan tersebut, para peneliti menggunakan citra 3D guna mempelajari fosil rahang Nombe.

Analisis yang mereka peroleh menunjukkan, spesies tersebut berevolusi dari bentuk kanguru purba, yang menyebar ke New Guinea sekitar 5-8 juta tahun yang lalu.

Selama waktu itu, pulau New Guinea dan daratan Australia dihubungkan oleh jembatan darat, berkat permukaan laut yang lebih rendah.

Sebelum jembatan dibanjiri dan menjadi Selat Torres seperti sekarang ini, jembatan itu memungkinkan mamalia awal Australia untuk pindah ke New Guinea.

Menurut para peneliti, di sanalah hewan-hewan tersebut berevolusi agar sesuai dengan rumah tropis baru mereka.

Sementara beberapa penelitian dilakukan pada 1960-an, 70-an, dan 80-an, mempelajari megafauna punah ini. Tetapi selanjutnya tidak ada penggalian yang dilakukan di sana sejak awal 90-an.

Para peneliti sekarang berusaha untuk memperbaiki dan melanjutkan penemuan itu, dengan studi lebih lanjut di masa depan.

Profesor Gavin Prideaux, rekan penulis studi tersebut mengatakan, pihaknya akan melakukan tiga penggalian paleontologis di dua lokasi berbeda di PNG timur dan tengah selama tiga tahun ke depan.

“Kami akan bekerja dengan kurator Museum dan Galeri Seni Papua Nugini dan kontak lainnya di PNG, dengan siapa kami berharap dapat membangun minat lokal dalam paleontologi Papua,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini