Share

Mengenal Fenomena Full Buck Supermoon yang Terjadi Pekan Depan

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Rabu 06 Juli 2022 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 06 56 2624530 mengenal-fenomena-full-buck-supermoon-yang-terjadi-pekan-depan-Uixgp03064.jpg Mengenal fenomena Full Buck Supermoon yang terjadi pekan depan (Foto: Marca)

JAKARTA - Fenomena Full Buck Supermoon atau Bulan Purnama Rusa Super diketahui bakal terjadi pada pekan depan, tepatnya Kamis (14/7/2022).

Diolah dari laman EDUSAINSA BRIN (LAPAN), Bulan Purnama Rusa ini bukan berarti satelit Bumi akan berbentuk seperti rusa, tetapi penamaannya berdasarkan The Farmer's Almanac.

Peneliti di Pusat Sains dan Atariksa BRIN (LAPAN), Andi Pangeran, menjelaskan bahwa Full Buck Supermoon atau Bulan Purnama Rusa ini menandakan rusa jantan muda mulai tumbuh tanduk di bulan Juli.

Andi menjelaskan, fenomena Full Buck Supermoon akan berlangsung pada Kamis (14/7/2022), pukul 01.57 WIB, 02.57 WITA, 03.57 WIT (pada jarak 357.418 km).

Fenomena ini, bisa disaksikan secara langsung tanpa bantuan alat optik apapun, asalkan cuaca cerah, tidak mendung, Full Buck Supermoon dapat dilihat dengan mata.

"Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup arahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya Bulan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya," ujar Andi.

Sementara itu, dia mengingatkan, Bulan Purnama Rusa ini sama seperti fase Bulan baru pada umumnya, di mana dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari baisanya.

“Adanya konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau bisa juga Matahari-Bulan-Bumi yang berada di posisi segaris membuat timbulnya pasang yang lebih besar. Apalagi konfigurasi ini juga diperkuat dengan Bulan yang berada di titik terdekatnya dengan Bumi,” terangnya.

Menurut dia, pasang laut tertinggi akan terjadi pada 14 Juli, sehingga disarankan bagi nelayan untuk tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12 hingga 16 Juli 2022.

“Perhitungan ini hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja tanpa melihat gelombang laut akibat badai angin,” lanjut Andi.

Baca Juga: Kawal Pengembangan Kampung Perikanan Budidaya, KKP Siapkan Pengawas Perikanan Andal

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini