Share

Besok Fenomena Full Buck Supermoon Menghiasi Langit Indonesia

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Rabu 13 Juli 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 12 56 2628339 besok-fenomena-full-buck-supermoon-menghiasi-langit-indonesia-6P00rlQY1r.JPG Besok fenomena Full Buck Supermoon menghiasi langit Indonesia (Foto: iStock)

JAKARTA - Fenomena astronomi Full Buck Supermoon atau Bulan Purnama Rusa Super diketahui bakal terjadi besok, tepatnya Kamis (14/7/2022).

Diolah dari laman EDUSAINSA BRIN (LAPAN), Rabu (13/7/2022), Bulan Purnama Rusa ini bukan berarti satelit Bumi akan berbentuk seperti rusa, tetapi penamaannya berdasarkan The Farmer's Almanac.

Peneliti di Pusat Sains dan Atariksa BRIN (LAPAN), Andi Pangeran, menjelaskan bahwa Full Buck Supermoon atau Bulan Purnama Rusa ini menandakan rusa jantan muda mulai tumbuh tanduk di bulan Juli.

Andi menjelaskan, fenomena Full Buck Supermoon akan berlangsung pada Kamis (14/7/2022), pukul 01.57 WIB, 02.57 WITA, 03.57 WIT (pada jarak 357.418 km).

Fenomena ini, bisa disaksikan secara langsung tanpa bantuan alat optik apapun, asalkan cuaca cerah, tidak mendung, Full Buck Supermoon dapat dilihat dengan mata telanjang.

"Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup arahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya Bulan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya," ujar Andi.

Sementara itu, dia mengingatkan, Bulan Purnama Rusa ini sama seperti fase Bulan baru pada umumnya, di mana dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

“Adanya konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau bisa juga Matahari-Bulan-Bumi yang berada di posisi segaris membuat timbulnya pasang yang lebih besar. Apalagi konfigurasi ini juga diperkuat dengan Bulan yang berada di titik terdekatnya dengan Bumi,” terangnya.

Menurut dia, pasang laut tertinggi akan terjadi pada 14 Juli, sehingga disarankan bagi nelayan untuk tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12 hingga 16 Juli 2022.

“Perhitungan ini hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja tanpa melihat gelombang laut akibat badai angin,” lanjut Andi.

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini