Share

Misteri Serangan Siber DDoS Terbesar Sepanjang Sejarah Terpecahkan

Tangguh Yudha, Jurnalis · Senin 18 Juli 2022 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 17 54 2631206 misteri-serangan-siber-ddos-terbesar-sepanjang-sejarah-terpecahkan-BmIw4ZVADn.jpg Misteri serangan siber DDoS terbesar sepanjang sejarah terpecahkan (Foto: BleepingComputer)

JAKARTA - Serangan siber DDoS terbesar sepanjang sejarah yang belum lama ini terjadi pelan-pelan mulai terpecahkan. Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, Cloudflare, menemukan titik terang.

Dilansir dari BleepingComputer, Senin (18/7/2022), Cloudflare menemukan bahwa serangan berasal dari botnet atau sekumpulan program berisi malware bernama Mantis.

Mantis yang sukses melakukan serangan DDOS pada 26 juta permintaan per detik yang berasal dari 5.067 perangkat ini digambarkan sebagai botnet paling kuat saat ini.

Cloudflare menjelaskan bahwa Mantis bukanlah botnet biasa. Meskipun botnet ini kecil, tetapi dampak yang bisa dihasilkan sangatlah luar biasa, layaknya Mantis atau belalang sembah.

Seperti diketahui, belalang sembah sendiri memiliki ukuran hanya sekitar 4 inci.

Namun, belalang sembah dapat memberikan pukulannya atau cakar yang sangat dahsyat.

Botnet biasa perlu berkompromi dengan sejumlah besar perangkat yang terhubung untuk mengumpulkan daya tembak yang cukup untuk memberikan serangan yang mengganggu terhadap target yang dilindungi.

Baca Juga: Kawal Pengembangan Kampung Perikanan Budidaya, KKP Siapkan Pengawas Perikanan Andal

Sementara Mantis berfokus pada server dan mesin virtual, yang datang dengan sumber daya yang jauh lebih banyak.

Menghasilkan banyak permintaan HTTPS adalah proses yang menuntut sumber daya, jadi semakin kuat perangkat yang membentuk gerombolan botnet, semakin kuat serangan DDoS yang dapat mereka luncurkan.

Mantis menargetkan entitas di sektor TI dan telekomunikasi (36%), berita, media, dan publikasi (15%), keuangan (10%), dan game (12%). Selama 30 hari terakhir, Mantis meluncurkan 3.000 serangan DDoS terhadap hampir seribu pelanggan Cloudflare.

Sebagian besar target adalah organisasi di Amerika Serikat (20%) dan Federasi Rusia (15%), sementara korban di Turki, Prancis, Polandia, Ukraina, Inggris, Jerman, Belanda, dan Kanada mencapai persentase antara 2,5% dan 5%.

Untuk membantu mempersiapkan serangan DDoS, Cloudflare sendiri telah mengeluarkan serangkaian tindakan pencegahan dan panduan terbaik tentang cara merespons serangan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini