Share

Pemerintah Ancam Tutup Facebook, Instagram Cs, Nuning Kertopati: Perlu Syok Terapi

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 19 Juli 2022 10:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 19 54 2632077 pemerintah-ancam-tutup-facebook-instagram-cs-nuning-kertopati-perlu-syok-terapi-tlzzVz3Fpb.jpg Pemerintah ancam tutup Facebook, Instagram Cs, Nuning Kertopati: perlu syok terapi (Foto: Freepik)

JAKARTA - Pengamat militer Susaningtyas NH Kertopati, mengungkapkan analisinya terkait isu Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) yang sedang hangat dibicarakan.

Nuning, panggilan akrabnya, berpendapat bahwa pemerintah bisa tegas pada Facebook, Google, dan Twitter. Ini momentum bagus apalagi untuk menunjukkan pada raksasa teknologi bahwa negara tidak tunduk pada perusahaan multinasional.

"Bila dihitung dari jumlah pemakai, misalnya Twitter pemakai aktif di tanah air 10-15 juta saja, jadi tidak ada alasan untuk tidak tegas," kata Nuning, dalam keterangan tertulis, Selasa (19/7/2022).

Dia menyampaikan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah pernah tegas pada telegram yang saat itu pemakainya 10 juta.

Untuk Facebook, lanjut Nuning, memang pemakai di Tanah Air sangat banyak, lebih dari 130 juta orang. Namun, kebutuhan Facebook tidak sekrusial Google, yang layanannya sudah banyak dipakai bahkan di kampus-kampus, perusahaan dan juga pemerintah daerah sampai pusat.

"Jadi perlu syok terapi juga, karena selama ini mereka merasa lebih aman dan lebih besar karena pemakai di Indonesia sangat banyak. Termasuk keberanian mereka ini terutama Facebook untuk urusan pajak, dan Facebook juga enggan membuka kantor di Indonesia," ujarnya.

Dia menyatakan, Facebook ini hanya membuka kantor yang diisi satpam untuk menerima surat saja. Masyarakat akan mengerti bila ada pendekatan komunikasi dari jauh hari.

Masih ada beberapa hari untuk pemerintah lewat Kominfo memberikan penjelasan bahwa bila Facebook dan Twitter tidak segera memenuhi syarat beroperasinya PSE di Tanah Air, maka layanannya diblokir sementara sampai mereka memenuhi syarat beroperasi PSE.

"Facebook terutama, akan rugi banyak karena pemakai di Indonesia sangat banyak. Pengumuman dari pemerintah sangat penting, terutama untuk menghimbau para pengiklan di Facebook dan Twitter untuk menghentikan iklannya, sementara platform tersebut di blokir," imbuh dia.

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

Menurutnya, untuk Google ini memang akan lebih banyak mendapatkan penolakan masyarakat, karena pemakaiannya sudah sampai ke berbagai elemen masyarakat.

"Seperti tadi disampaikan mulai dari kampus, perkantoran sampai pemerintah memakai layanan Google. Belum lagi YouTube yang di bawah google sudah menjadi platform mencari uang banyak pihak," paparnya.

Namun, lanjut Nuning, yang paling parah adalah layanan google di smartphone Android, bila diblokir maka banyak layanan yang tidak berfungsi.

Atas dasar inilah, Uni Eropa melarang Google memberikan aplikasinya secara default di ponsel Android yang beredar di negara Uni Eropa, selain karena melanggar aturan monopoli, ini juga mengurangi ketergantungan masyarakat di sana terhadap aplikasi Google.

"Sekali lagi pendekatan untuk Google ini memang agak berbeda. Sebaiknya negara tidak kalah melawan Google cs, karena negara lain sudah tegas minimal dengan denda, dan bila tidak membayar denda maka Google cs akan diblokir layanannya," tutup dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini