Share

Sangat Langka! Komet K2 Melintasi Bumi, Menampilkan Ekor Debu dan Gas

Hantoro, Jurnalis · Senin 25 Juli 2022 09:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 25 56 2635636 sangat-langka-komet-k2-melintasi-bumi-menampilkan-ekor-debu-dan-gas-inZebd3fCR.jpg Ilustrasi fenomena sangat langka Komet K2 melintasi Planet Bumi. (Foto: Shutterstock)

KOMET C/2017 K2 (PanSTARRS) atau disingkat K2 melintasi Planet Bumi. Ini menjadi fenomena alam sangat langka, karena tidak diketahui kapan lagi komet K2 akan melalui Bumi.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Koordinator Balai Pengelola Observatorium Nasional (BPON) Kupang, Abdul Rachman, mengatakan Komet C/2017 K2 (PanSTARRS) diduga berasal dari suatu lokasi di bagian luar tata surya yang dinamakan Awan Oort.

Baca juga: Apa Perbedaan Meteor, Komet, dan Asteroid? Ini Penjelasannya 

Initial C dari komet tersebut bertipe non-periodik, angka 2017 menunjukkan tahun ditemukannya, dan kombinasi huruf dan angka K2 menunjukkan urutan ditemukannya pada tahun 2017.

"Komet ini melintas terdekat dengan Bumi pada 13 Juli 2022 pada jarak sekira 2 kali jarak Bumi ke matahari. Saat ini K2 sedang menuju jarak terdekatnya ke matahari yang diperkirakan terjadi pada Desember tahun ini," papar Abdul Rachman dalam keterangan resminya yang diterima MNC Portal, Senin (25/7/2022).

"Karena termasuk golongan komet non-periodik, K2 tidak rutin melintas di dekat Bumi seperti halnya komet-komet periodik misalnya Komet Halley yang periodenya sekira 83 tahun, sehingga tidak diketahui kapan akan melintas di dekat Bumi lagi," imbuhnya.

Fenomena sangat langka Komet K2 melintasi Planet Bumi. (Foto: BRIN)

Ia mengungkapkan K2 ditemukan oleh sistem pemantau komet bernama Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (PanSTARRS) yang berlokasi di Hawaii pada 21 Mei 2017. Komet ini diduga berasal dari Awan Oort (Oort Cloud) yang berupa kumpulan benda-benda yang berada di bagian terluar dari Tata Surya.

Penampakan Komet K2 saat melintas dengan jarak paling dekat dengan Bumi menampilkan ekor debu dan gas. Makin dekat ke matahari, ekor gas akan terlihat lebih jelas.

Baca juga: NASA Temukan Komet Terbesar Sepanjang Sejarah, Lebarnya Ratusan Kilometer 

"Saat melintas dekat Bumi, K2 hanya bisa dilihat jika memakai teleskop, apalagi karena saat itu bertepatan dengan bulan purnama. Akan tetapi seiring makin dekatnya komet tersebut dengan matahari maka ia akan bisa dilihat dengan binokular. Seluruh daerah di permukaan bumi berkesempatan untuk melihat komet itu pada malam hari yang cerah," ungkapnya.

"Kita bisa mengamati K2 beberapa bulan terutama saat komet itu melintas dekat Bumi, dalam perjalanannya menuju titik terdekatnya dengan matahari, dan hingga beberapa bulan setelah itu," jelasnya.

Baca Juga: Kawal Pengembangan Kampung Perikanan Budidaya, KKP Siapkan Pengawas Perikanan Andal

Abdul Rachman menerangkan, terkait fenomena komet melintas bumi, melalui riset dapat dipelajari kemungkinan jatuhnya komet tersebut ke bumi.

Dalam kasus K2 ini, komet melintasi bumi pada jarak lebih dari 270 juta kilometer sehingga tidak berdampak apa-apa ke bumi. Kemudian dikarenakan melintasnya cukup jauh dari Bumi yakni sekira 2 kali jarak matahari-Bumi, maka tidak ada efek negatif yang ditimbulkan.

Baca juga: Komet Leonard Siap Melintas Dekat Bumi Bulan ini 

"Pengamatan Komet K2 di BPON dilakukan di Kantor Operasional dan Pusat Sains di Desa Oelnasi selama beberapa hari sejak 13 hingga 16 Juli 2022. Setiap hari pengamatan itu dilakukan akuisisi hingga beberapa jam. Data yang terkumpul selain bisa dianalisis untuk keperluan riset, bisa juga digunakan untuk astrofotografi," ungkapnya.

"Untuk pengamatan digunakan teleskop yang memakai cermin berukuran 25 sentimeter dan detektor CCD yang dilengkapi dengan beberapa buah filter warna," terangnya.

Sementara Kepala Pusat Riset Antariksa Emanuel Sungging mengungkapkan bahwa data hasil pengamatan ini dapat dimanfaatkan untuk riset, tidak hanya oleh peneliti BRIN, tetapi semua yang tertarik untuk mempelajari dinamika benda-benda di dalam tata surya.

Baca juga: Komet Raksasa Ditemukan, Diameternya Capai 150 Km 

"Dari perwujudan kedua ekor komet (debu dan gas) yang bisa diamati dapat diperoleh pemahaman pada sifat intrinsik komet, serta pada bagaimana kondisi cuaca antariksa pada saat itu," jelasnya.

"Selain itu dari perjalanan komet, setidaknya sampai Desember 2022, bisa dilihat apakah komet tersebut mengakhiri hidupnya dengan menghujam ke matahari? Ataukah melanjutkan lintasannya keluar dari tata surya? Lalu bagaimanakah perjalanannya kemudian?" lanjutnya.

Fenomena melintasnya K2 ini merupakan kesempatan yang baik bagi para ilmuwan untuk mengamati komet ini lebih dekat dan bagi para penggiat astofotografi untuk memotretnya. Setiap komet memiliki keunikan yang menarik untuk dikaji secara ilmiah dan untuk diabadikan kenampakannya melalui bidikan kamera.

"Harapan terbesar dari pengamatan singkat seperti ini adalah memberikan wawasan dan informasi kepada masyarakat Indonesia, bahwa bangsa Indonesia sudah mempunyai sebuah observatorium astronomi di wilayah Nusa Tenggara Timur yang bisa dimanfaatkan untuk riset keantariksaan, bersama dengan BRIN," pungkasnya.

Baca juga: Fenomena Astronomi yang Bisa Dinikmati Mata Telanjang, Ini Daftarnya 

Baca juga: 6 Fakta Menarik Antartika, Termasuk Benua Terbesar hingga Mengandung Air Tawar 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini