Share

Polusi yang Disebabkan Peluncuran Roket Seberapa Banyak? Simak Jawabannya

Cita Zenitha, Jurnalis · Selasa 16 Agustus 2022 18:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 56 2649068 polusi-yang-disebabkan-peluncuran-roket-seberapa-banyak-simak-jawabannya-5GObaTgQS9.jpg Polusi yang disebabkan peluncuran roket seberapa banyak? Simak jawabannya (Foto)

JAKARTA - Apakah kamu tahu seberapa banyak polusi yang disebabkan peluncuran roket? Polusi sendiri menjadi penyumbang utama masalah lingkungan yang menyebabkan masalah kesehatan.

Dirangkum dari berbagai sumber, Kosmodrom Baikonur merupakan area peluncuran roket pertama di dunia yang berada di Kazakhstan. Area ini telah meluncurkan roket sejenis Sputnik 1 dan Vostok 1.

Untuk melakukan misi penerbangan ke luar angkasa, Binokuler menggunakan bahan bakar Unsymmetrical dimethylhydrazine (UDMH).

UDMH sendiri, merupakan bahan bakar yang berbentuk cair yang biasa digunakan untuk menerbengkan roket ke luar angkasa. Roket yang menggunakan bahan bakar UDMH tidak memerlukan api untuk pembakaran.

Bahan bakar UDMH disebut sebagai racun setan yang menyebabkan bencana ekologis dan memiliki andil besar terhadap rusaknya atmosfer bumi.

Sebab, ketika terbang ke angkasa, roket akan memuntahkan hasil pembakarannya ke atmosfer mulai dari emisi dan karbon hitam.

Mungkin untuk beberapa waktu efek dari peluncuran roket tersebut bisa diabaikan. Tetapi, saat ini jumlahnya mulai berlipat ganda dan diprediksi akan terus meningkat setiap tiga tahun dilaksanakannya pariwisata luar angkasa.

Dihitung setiap tahun, sebuah roket yang diluncurkan menggunakan RP-1 mengeluarkan setidaknya 1 gigagram atau 1000 metrik ton jelaga ke luar angkasa.

Jika terjadi peningkatan roket setiap tahun maka akan membuang setidaknya 30 gigagram dalam setahun bahkan bisa mencapai 100 gigagram, Bumi akan mengalami berada di bawah payung karbon dan mengalami pendinginan.

Follow Berita Okezone di Google News

Dilihat dari sebuah data peluncuran roket Space X Falcon 9 tahun 2006 ditemukan bahan roket tersebut akan membuang CO2 sebanyak 116 ton hanya dalam waktu 165 detik saja. Dari gas buangan roket bertemu dengan pemanasan atmosfer akan terbentuk nitrogen oksida.

Bahan bakar seperti RP-1 dan UDMH digunakan sebagai bahan bakar alternatif peluncuran roket. Namun, tampaknya penggunaan metana masih menjadi pilihan utama.

Kendati demikian, penggunaan metana pada roket tersebut menyebabkan masalah kontroversi karena termasuk gas terburuk yang menyebabkan pemanasan global. Metana menyumbang 8o kali pemanasan global dibanding karbon dioksida.

Sudah ada beberapa perintis roket yang mulai bereksperimen menggunakan bahan bakar RP-1 yang terbuat dari biomassa dan plastik.

Biasanya mereka akan lebih memfokuskan pada pengurangan karbon yang mereka hasilkan serta untuk mengurangi emisi di atmosfer.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini