Share

Mengenal Lebih Dekat Misi Artemis NASA, Kirim Astronot ke Bulan

Tangguh Yudha, Jurnalis · Selasa 30 Agustus 2022 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 30 56 2657587 mengenal-lebih-dekat-misi-artemis-nasa-kirim-astronot-ke-bulan-eeysBy4d44.JPG Mengenal lebih dekat misi Artemis NASA, kirim astronot ke Bulan (Foto: NASA/Cory Huston)

JAKARTA - Selama bertahun-tahun, NASA telah memulai misi luar angkasa yang disebut sebagai Artemis. Misi ini bertujuan untuk mengirim astronot wanita dan orang kulit hitam pertama ke Bulan.

Dilansir dari ZDNET, Selasa (30/8/2022), Artemis akan mempersiapkan umat manusia untuk perjalanan panjang ke Mars. Dan misi ini akan membantu membangun ekonomi Bulan yang berkelanjutan.

Adapun NASA sendiri bekerja sama dengan mitra internasional dan komersial untuk mencapai misi Artemis.

Untuk diketahui, sejak tahun 1969 hingga 1972, program Apollo NASA telah membawa manusia ke Bulan.

Artemis adalah saudara kembar Apollo dan dewi Bulan dalam mitologi Yunani, diadopsi ke logo Artemis I yang menampilkan roket Space Launch System (SLS) di mana membawa pesawat ruang angkasa Orion.

Bentuk segitiganya , mewakili tiga program utama yang terdiri dari Sistem Eksplorasi Luar Angkasa NASA, yakni Orion, SLS, serta Sistem Tanah Eksplorasi, dan merupakan bentuk klasik untuk lambang misi NASA yang berasal dari era pesawat ulang-alik.

Administrator NASA, Jim Bridenstine, mengatakan bahwa ada banyak alasan untuk kembali melanjutkan misi ke Bulan. Dan dengan Artemis, manusia akan menjelajahi lebih banyak hal di Bulan daripada sebelumnya.

"Kami melakukan perjalanan 402.336 km ke Bulan untuk mendemonstrasikan teknologi, kemampuan, dan pendekatan bisnis baru yang diperlukan untuk eksplorasi Mars di masa depan, yang jaraknya bisa sejauh lebih dari 402 juta km dari Bumi," katanya.

Misi Artemis II akan mengirim empat astronot dalam penerbangan mengelilingi Bulan. Hanya dalam waktu 10 hari, mereka akan melakukan perjalanan 7.402 km di luar sisi jauh Bulan. Penerbangan itu akan membawa para astronot lebih jauh ke tata surya daripada yang pernah dilakukan siapa pun sebelumnya.

Inti dari misi ini adalah untuk mengkonfirmasi lebih lanjut bahwa sistem pesawat ruang angkasa NASA siap membawa kru ke luar angkasa. Para kru akan dapat menguji sistem pendukung kehidupan pesawat ruang angkasa Orion, serta sistem komunikasi dan navigasinya.

Orion akan terbang sebentar di luar jangkauan satelit GPS dan Satelit Pelacakan dan Relay Data dari Jaringan Luar Angkasa NASA - ini berarti krunya akan bergantung pada Jaringan Luar Angkasa agensi untuk menavigasi dan berkomunikasi dengan kontrol misi.

Sayangnya NASA belum memutuskan astronot mana yang akan melakukan perjalanan ke Bulan. Badan antariksa Amerika Serikat tersebut mengatakan pihaknya berharap dapat memilih astronot mana yang akan terbang dengan Artemis II akhir tahun ini.

Misi Artemis III akan membawa astronot ke Kutub Selatan Bulan, sebuah area di Bulan di mana manusia belum menginjakkan kaki. Para ilmuwan memperkirakan Kutub Selatan bulan kaya akan sumber daya potensial, termasuk air. Para astronot akan mencari sumber daya ini dan mencari peluang untuk memanfaatkannya.

Para astronot juga akan membangun Artemis Base Camp di Bulan dan bekerja untuk memperluas Gateway, sebuah pos terdepan yang akan mengorbit Bulan untuk memberikan dukungan bagi misi jangka panjang di Bulan serta untuk eksplorasi luar angkasa.

Mengikuti Artemis III, NASA bermaksud meluncurkan misi berawak ke Bulan sekitar setahun sekali. Seluruh misi Artemis akan bergantung pada roket Space Launch System (SLS) NASA dan pesawat ruang angkasa Orion.

Untuk mendaratkan astronot di Bulan, NASA akan merapat Orion di Gateway. Para astronot akan dipindahkan ke sistem pendaratan manusia (HLS) Starship yang sedang dibangun oleh perusahaan SpaceX.

Pada November 2021, Kantor Inspektur Jenderal NASA (OIG) menerbitkan audit program Artemis, menemukan bahwa NASA telah menghabiskan sekitar $40 miliar untuk serangkaian misi. OIG mengatakan mereka mengharapkan badan tersebut untuk menghabiskan sekitar $93 miliar pada tahun 2025.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini