Share

Serangan Siber Sasar Universitas di China, AS Disebut Pelakunya

Tangguh Yudha, Jurnalis · Rabu 07 September 2022 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 06 54 2662268 serangan-siber-sasar-universitas-di-china-as-disebut-pelakunya-rYhWyP9g4s.jpg Serangan siber sasar universitas di China, AS disebut pelakunya (Foto: Istimewa)

JAKARTA - China menuduh Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan siber ke universitas yang didanai oleh pemerintah Negeri Tirai Bambu, yakni Northwestern Polytechnical University.

Dilansir dari TechSpot, Rabu (7/9/2022), Northwestern Polytechnical University sendiri, merupakan universitas yang berspesialisasi pada studi penerbangan, kedirgantaraan, navigasi, dan juga luar angkasa.

Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional China (CNCERT/CC) menyebutkan, Bada Keamanan Nasional (NSA) AS telah mengirim email phishing kepada para dosen dan mahasiswa dalam upaya mencuri data dan informasi pribadi mereka.

Seperti serangan phishing lainnya, email berusaha mengelabui target dengan mengiming-imingi agar mengklik tautan berbahaya.

Di kasus ini, email phising mengusung tema-tema evaluasi ilmiah, tesis, dan informasi lainnya.

Menurut The Global Times, sebuah tim dari CNCERT/CC dan 360 Security Technology Inc. menganalisis sampel trojan dari sistem informasi universitas setelah serangan terjadi.

China mengatakan, NSA berada di balik lebih dari 10.000 serangan siber kejam yang menarget sistem dalam negeri China dalam beberapa tahun terakhir, mengumpulkan lebih dari 140 GB data bernilai tinggi.

Untuk diketahui, tuduhan ini bukan pertama kali dilayangkan oleh China karena kedua negara memang dalam beberapa tahun terakhir memiliki hubungan yang kurang harmonis. Keduanya saling tuduh menuduh.

AS sendiri memiliki sejarah panjang dalam melemparkan tuduhan peretasan ke China. CISA, NSA, dan FBI sudah sering mengeluarkan peringatan bahwa China mencoba memata-matai mereka.

AS mengatakan bahwa China menggunakan router dan perangkat penyimpanan yang terpasang jaringan (NAS) untuk mendapatkan akses ke infrastruktur perusahaan telekomunikasi besar, lalu mengirimkannya ke server China.

Pada bulan Februari, direktur Biro Investigasi Federal Christopher Wray mengatakan, China berada di balik lebih banyak serangan siber di AS daripada gabungan semua negara lain.

Dia menambahkan, pada saat itu FBI sedang menyelidiki 2.000 kasus serangan China.

Dia mengutip peretasan Microsoft Exchange, yang berdampak pada jaringan 10.000 perusahaan Amerika, sebagai contoh kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh peretas China terhadap industri AS.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini