Share

Kotoran Bangsa Viking Ungkap Genom Cacing Parasit Manusia Purba

Tangguh Yudha, Jurnalis · Kamis 08 September 2022 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 08 56 2663341 kotoran-bangsa-viking-ungkap-genom-cacing-parasit-manusia-purba-KtoqRknM43.jpg Kotoran bangsa Viking ungkap genom cacing parasit manusia purba (Foto: University of Copenhagen)

JAKARTA - Mencari tahu hubungan manusia purba dengan cacing parasit bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya, dengan mengekstraksi DNA dari kotoran, termasuk juga kotoran yang ditemukan di jamban kuno tempat para bangsa Viking buang hajat.

Penelitian terbaru mengadopsi cara ini dengan melakukannya di jamaban bangsa Viking yang diyakini memiliki umur lebih dari 2.500 tahun. Para peneliti telah merekonstruksi genom salah satu parasit manusia tertua yang diketahui.

Temuan ini telah mengungkapkan bahwa cacing cambuk (Trichuris trichiura) telah hidup dan beradaptasi dengan manusia setidaknya selama 55.000 tahun. Mereka mampu bertahan hidup selama ini dengan sifat liciknya sebagai parasit.

"Pada orang yang kekurangan gizi atau memiliki gangguan sistem kekebalan, cacing cambuk dapat menyebabkan penyakit serius," kata ahli zoologi Christian Kapel dari University of Copenhagen, seperti dikutip dari ScienceAlert, Rabu (8/9/2022).

"Pemetaan cacing cambuk dan perkembangan genetiknya memudahkan untuk merancang obat anti-cacing yang lebih efektif yang dapat digunakan untuk mencegah penyebaran parasit ini di wilayah termiskin di dunia," lanjutnya.

Meskipun cacing ini sekarang sudah langka, namun diperkirakan cacing masih menginfeksi hingga 795 juta orang di seluruh dunia, menurut CDC, terutama di daerah dengan sanitasi buruk. Mereka ditularkan melalui kotoran yang mrncemari air atau tanah.

Setelah mereka berhasil masuk ke tubuh manusia, cacing akan masuk ke saluran usus inang baru, telur menetas, dan cacing betina akan bertelur terus menerus dengan kecepatan hingga 20.000 per hari setelah ia mencapai kedewasaan.

Mereka dapat hidup hingga satu tahun, sehingga menghasilkan sejumlah besar keturunan yang kemudian dikeluarkan dalam tinja untuk melanjutkan siklus.

"Telur-telur itu berada di tanah dan berkembang selama kira-kira tiga bulan. Setelah matang, telur dapat bertahan hidup di alam liar lebih lama lagi, karena menunggu untuk dikonsumsi oleh inang baru," Kapel menjelaskan.

Daya tahan di dalam tanah inilah yang memungkinkan tim untuk mengurutkan DNA purba yang ditemukan dalam fosil kotoran manusia purba. Telur memiliki cangkang kitin yang keras, mengawetkan DNA yang terkandung di dalamnya.

Kemudian beradaptasi untuk bertahan hidup lama di lingkungan tanah.Telur, oleh karena itu, bukan tubuh cacing dewasa yang dikeringkan, yang dapat diurutkan oleh para peneliti, diperoleh dari situs pemukiman Viking di Viborg dan Kopenhagen, serta situs di Latvia dan Belanda.

Sebanyak 17 sampel purba yang berbeda dipelajari di bawah mikroskop untuk mengisolasi telur, yang kemudian disaring dari matriks fosil kotoran di sekitarnya, dan menjadi sasaran analisis genetik.

Tim juga memeriksa sampel kontemporer dari manusia di seluruh dunia, serta monyet, untuk dibandingkan dengan genom purba.

"Tidak mengherankan, kita dapat melihat bahwa cacing cambuk tampaknya telah menyebar dari Afrika ke seluruh dunia bersama manusia sekitar 55.000 tahun yang lalu, mengikuti apa yang disebut hipotesis 'keluar dari Afrika' tentang migrasi manusia," kata Kapel.

Hasilnya menunjukkan bahwa parasit telah beradaptasi dengan cara bekerja sama, bukan melawan tubuh manusia agar tetap tidak diperhatikan, menjalani siklus hidupnya, dan menyebar ke inang sebanyak mungkin.

"Selama Zaman Viking dan hingga Abad Pertengahan, seseorang tidak memiliki kondisi sanitasi yang baik atau fasilitas memasak dan toilet yang terpisah dengan baik," kata Kapel.

"Ini memberikan peluang yang jauh lebih baik bagi cacing cambuk untuk menyebar. Saat ini, sangat jarang terjadi di bagian dunia industri. Sayangnya, kondisi yang menguntungkan untuk penyebaran masih ada di wilayah yang kurang berkembang di dunia," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini