Share

Apa yang Terjadi Pada Otak Manusia Ketika Tidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Tangguh Yudha, Jurnalis · Senin 12 September 2022 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 12 56 2665812 apa-yang-terjadi-pada-otak-manusia-ketika-tidur-ini-penjelasan-ilmiahnya-dH1KThi3Vn.JPG Apa yang terjadi pada otak manusia ketika tidur? Ini penjelasan ilmiahnya (Foto: NPR/Streeter)

JAKARTA - Otak manusia menjadi misteri besar yang rumit untuk dipecahkan. Para ilmuwan pun masih terus mempelajari bagaimana otak bisa bekerja, termasuk saat manusia tertidur, apakah mereka mati total atau ada aktivitas lain yang dilakukan.

Dan penelitian terbaru yang dilakukan oleh Institut Nasional Gangguan Neurologis dan Stroke (NINDS) menemukan, ketika tidur otak tetap mengirimkan gelombang aktivitas tertentu. Ini sebabnya saat manusia tertidur mereka bisa bermimpi.

Para peneliti mengelompokan kondisi otak manusia saat tertidur menjadi dua bagian. Yang pertama adalah tidur gerakan mata cepat (REM) dan kedua adalah tidur non-REM. Keduanya terkait dengan jenis gelombang otak tertentu dan aktivitas saraf tertentu.

Dikatakan bahwa tidur non-REM terjadi saat manusia beralih dari bangun ke tidur, saat gelombang otak mulai melambat. Pada saat yang sama, otot-otot manusia mulai rileks, dan pernapasan menjadi lebih lambat daripada siang hari saat tubuh terjaga.

Sementata tidur REM, terjadi saat aktivitas gelombang otak beroperasi pada tingkat yang sangat mirip dengan terjaga. Penelitian mengungkap, tidur REM terjadi antara 20% hingga 25% dari waktu tidur, dan saat itulah mimpi cenderung menjadi aneh.

Selama tidur REM, yaitu saat mimpi paling aktif, talamus - massa besar materi abu-abu yang ditemukan di tengah otak - mengirimkan gambar, suara, dan sensasi lain yang memenuhi mimpi manusia, kata NINDS, melansir dari LiveScience, Senin (12/9/2022).

Neurotransmitter asetilkolin, bahan kimia yang melonjak selama jam bangun, juga kuat selama tidur REM, menurut Johns Hopkins Medicine. Ketika manusia terjaga, asetilkolin muncul untuk membantu otak menyimpan informasi yang dikumpulkan.

Ini yang membuat manusia mengingat informasi saat tidur. Itulah mengapa belajar sebelum tidur dapat sangat membantu manusia mengingat fakta-fakta penting keesokan harinya. Dan ini bukanlah mitos semata, sufah dibuktikan.

Saat tertidur, otak mengalami pola gelombang otak yang dikenal sebagai "spine spindles," yang menurut Sleep Foundation, tidak sepenuhnya dipahami, tetapi dianggap berperan dalam mempelajari dan mengintegrasikan ingatan baru.

Spindel tulang belakang juga dapat berperan dalam memastikan kita tetap tertidur bahkan ketika otak kita menghadapi rangsangan dari luar. Selama tidur, otak bahkan mencuci dirinya sendiri dalam campuran cairan serebrospinal dan darah.

Memahami sifat siklus pencucian ini dapat membantu mengungkap informasi baru tentang gangguan terkait usia serta berbagai gangguan neurologis dan psikologis yang sering dikaitkan dengan pola tidur yang terganggu, termasuk autisme dan penyakit Alzheimer.

"Ada beberapa proses otak yang diamati terjadi saat tidur," kata Dr. David Raizen, profesor neurologi di University of Pennsylvania.

"Ini termasuk sekresi hormon pertumbuhan pada manusia, pembersihan metabolit limbah yang menumpuk selama jam bangun, perubahan metabolisme, dan perubahan kekuatan komunikasi antara sel-sel otak (neuron), terangnya.

Sebuah studi tahun 2017 di jurnal Nature Medicine menemukan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan sel-sel otak untuk berkomunikasi satu sama lain, yang menyebabkan penyimpangan mental sementara yang memengaruhi memori dan persepsi visual.

Penulis utama studi tersebut, Dr. Itzhak Fried yang merupakan seorang profesor di University of California, Los Angeles, mencatat bahwa tubuh yang kelaparan untuk tidur juga merampas kemampuan neuron untuk berfungsi dengan baik.

Ini adalah poin yang didukung oleh NINDS yang mengatakan tidur berkualitas sama pentingnya dengan kelangsungan hidup seperti makanan dan air. Tanpa tidur, manusia tidak dapat membentuk atau mempertahankan jalur di otak sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan merespons dengan cepat.

"Ada banyak kondisi kesehatan buruk yang diamati yang berkorelasi dengan kurang tidur. Tetapi sulit untuk mengetahui apakah kurang tidur menyebabkan masalah ini. Misalnya, demensia yang sangat dini menyebabkan kurang tidur, bukan dan sebaliknya," kata Raizen.

Tetapi semua tidur tidak sama, dan dampaknya terhadap kesehatan kita dapat bervariasi tergantung pada keadaan. Jadi, sementara berbagai penelitian telah mengungkapkan bahwa tidur memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan manusia.

Namun, masih banyak pertanyaan tentang tidur dan hubungannya dengan otak yang belum terjawab.

"Di luar pertanyaan besar seputar mengapa kita tidur, ada banyak misteri tentang bagaimana kita tidur. Apa saja pusat otak yang terlibat dalam inisiasi, pemeliharaan, dan penghentian tidur? Apa bahan kimia otak yang terlibat dalam hal ini? Bagaimana otak beralih dari tidur gerakan mata cepat (REM) ke tidur non-REM?," Jata Raizen.

Satu-satunya cara untuk memecahkan teka-teki ini, menurut Raizen, adalah para ilmuwan harus melakukan lebih banyak penelitian.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini