Share

Apakah Serangga Juga Bisa Merasakan Sakit Ketika Cedera? Simak Jawabannya

Maryam Nurfauziah, Jurnalis · Rabu 14 September 2022 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 14 56 2667599 apakah-serangga-juga-bisa-merasakan-sakit-ketika-cedera-simak-jawabannya-ESfY9trCBh.jpg Apakah serangga juga bisa merasakan sakit ketika cedera? Simak jawabannya (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Serangga merupakan hewan berkontruksi khusus yang memiliki rangka di luar tubuh. Mereka bernapas melalui lubang kecil pada dinding tubuh dan memiliki organ sensorik di bagian mulut, kaki, atau perut.

Serangga sering ditemui dalam kehidupan, seperti di rumah, taman, dan beberapa di tempat makanan. Tetapi, saat mereka muncul, tidak sedikit di antara kita mencoba membunuh serangga, terutama ketika mendekat ke tubuh.

Namun, pernahkah kalian bertanya-tanya, apakah serangga merasakan sakit ketika Anda membunuhnya atau saat mengalami cedera?

Dilansir dari Study Finds, Rabu (14/9/2022), sebuah studi membuktikan bahwa serangga tidak hanya merasakan sakit karena cedera, tetapi juga menderita sakit kronis setelah pulih dari cedera.

Para peneliti dari University of Sydney di Australia mengatakan, penemuan ini didasarkan pada penelitian sebelumnya dari tahun 2003 yang menemukan serangga mengalami sensasi yang berhubungan dengan rasa sakit.

“Orang-orang tidak benar-benar menganggap serangga juga memiliki rasa sakit,” kata profesor University of Sydney, Greeg Neely, dalam sebuah pernyataan.

“Banyak hewan invertebrata yang unik, mereka dapat merasakan dan menghindari rangsangan berbahaya. Kita menganggapnya menyakitkan," jelasnya.

Pada non-manusia, para peneliti menyebut indra ini 'nosisepsi', ia mendeteksi rangsangan yang berpotensi berbahaya seperti panas, dingin, atau cedera fisik, tetapi serangga bisa merasakan sakit saat mengalami rangsangan itu.

“Jadi kami tahu bahwa serangga dapat merasakan sakit. Namun, yang tidak kami ketahui adalah bahwa cedera dapat menyebabkan hipersensitivitas jangka panjang terhadap rangsangan yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dengan cara yang mirip dengan pengalaman pasien manusia, ungkap dia.

Dalam penelitiannya, mereka merusak satu kaki pada lalat buah dan kemudian membiarkannya sembuh total. Mereka menemukan, setelah lalat buah pulih, kaki mereka yang tidak terluka menjadi lebih sensitif, reaksi yang disamakan dengan rasa sakit kronis pada manusia.

“Setelah hewan itu terluka parah, mereka menjadi hipersensitif dan mencoba melindungi diri mereka sendiri selama sisa hidup mereka. Itu agak keren dan intuitif,” ujar Neely.

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini