Share

Sejarah Munculnya Tindakan Peretasan dan Sosok Hacker

Ajeng Wirachmi, Jurnalis · Senin 19 September 2022 19:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 19 54 2670684 sejarah-munculnya-tindakan-peretasan-dan-sosok-hacker-F1Ja4C6Ljp.png Sejarah munculnya tindakan peretasan dan sosok hacker (Foto: Unsplash)

JAKARTA - Berita tentang peretasan (hack) dan sosok hacker (peretas) belakangan ini mencuat kembali di Indonesia. Kemunculan seorang hacker dengan nama Bjorka cukup mengebohkan masyarakat.

Bjorka diketahui meretas data beberapa lembaga negara, kepala institusi, dan menteri. Rangkuman Okezone, data pribadi Presiden Joko Widodo juga berhasil diretas oleh Bjorka. Hacker ini diklaim sudah membocorkan setidaknya 679.180 dokumen yang diretas per September 2022.

Serba-serbi mengenai peretasan dan hacker pun banyak menarik perhatian masyarakat. Lantas, seperti apa sebenarnya awal mula munculnya peretasan dan sosok hacker?

Melansir Jurnal Dinamika Global (2020) bertajuk “Hacker Sebagai Aktor Non-Negara,” hacker sebenarnya terkenal saat munculnya sekelompok mahasiswa yang menuntut ilmu di Tech Model Railroad Club, MIT (Massachusetts Institute of Technology), Amerika Serikat, pada tahun 1959, di mana melakukan peretasan terhadap berbagai komputer.

Semula istilah hacker ini diartikan dengan makna positif, yakni merujuk pada seseorang yang memiliki kemampuan mengubah segala sesuatu pada komputer.

Orang tersebut juga mampu memperbaiki sistem atau mengotak-atiknya, sehingga tampil dengan sistem yang lebih baik. Seiring berjalannya waktu dan teknologi yang kian berkembang, hacker dan peretasan menjadi konotatif. Hal ini karena banyak terjadi kebocoran data yang merugikan berbagai pihak dan bermuara pada kejahatan dunia maya.

Jika menilik lebih detail, insiden manipulasi sistem teknis secara ilegal sebenarnya sudah terjadi di tahun 1878. Sekelompok remaja laki-laki sengaja dipekerjakan oleh perusahaan komunikasi bernama Bell Telephone.

Mereka secara tiba-tiba memutuskan dan mengarahkan panggilan telepon ke pihak lain. Akibatnya, situasi kacau terjadi. Meskipun demikian, minim pihak yang menyebut bahwa insiden ini adalah peretasan pertama. Masih lebih banyak pihak yang lebih mengakui insiden di MIT tahun 1959 sebagai peretasan pertama kali.

Hacker pertama yang dikenal adalah John Draper. Pria yang memiliki julukan Captain Crunch ini memanfaatkan peluit mainan yang didapat secara gratis dalam kotak sereal Cap’n Crunch.

Peluit tersebut, digunakan untuk membuat panggilan jarak jauh dan memiliki istilah phreaking. Pada masa itu, telepon diketahui merupakan jaringan komputer terbesar yang mampu diakses oleh masyarakat umum.

Perangkat telepon dikelola oleh sebuah sistem otomatis dengan frekuensi analog tertentu guna melakukan panggilan. Akibat perbuatannya tersebut, Draper ditangkap pihak berwajib pada Mei 1972 lantaran menggunakan sistem panggilan telepon ilegal.

Mengapa peretasan terjadi? Ada banyak penyebab, dari lemahnya sebuah sistem sampai mudah diretas oleh hacker.

Melansir Sindonews, kelemahan faktor seperti hardware, teknologi, hardware, firewall, SDM (sumber daya manusia), dan peraturan guna mendukung keamanan siber, membuka peluang munculnya peretasan.

Dalam melancarkan aksinya, peretas atau hacker menggunakan tools gratis yang bisa diakses secara mudah. Hacker juga biasanya sudah paham mengenai bagian atau celah mana yang bisa disusupi. Mereka juga bisa keluar dari sistem tanpa terdeteksi.

Latar belakang utamanya peretasan adalah untuk mencuri data. Ada pula hacker yang bermaksud mengubah dan merusak data, dengan motif politik serta uang.

“Ketika masuk, biasanya yang dicari pertama itu user admin agar bisa mendapatkan mendapatkan akses ke manapun,” kata pakar Keamanan Siber, Pratama Persadha, dalam wawancaranya dengan Sindonews.

Terkait perlindungan data pribadi di dunia maya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui laman resminya memberikan tips.

Contohnya adalah mengganti kata sandi (password) secara berkala. Tidak hanya itu, kata sandi wajib terdiri dari gabungan nomor, huruf kapital, atau jenis lainnya sehingga tidak mudah terdeteksi.

Apabila peretas mengetahui kata sandi akun seseorang, maka dirinya mendapatkan akses ke akun lainnya. Termasuk, dalam hal ini, akun bank.

Masyarakat juga harus cerdas dalam berselancar di dunia maya. Jika menemukan tautan mencurigakan melalui pesan singkat, surel (surat elektronik), atau media lain, sebaiknya jangan dibuka.

Bisa saja tautan tersebut merupakan phising yang akan merugikan korban. Tautan palsu tersebut memang sangat menyerupai tautan aslinya dan menimbulkan kepercayaan masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang tertipu dan memberikan data-data pribadinya di tautan tersebut.

Selanjutnya, masyarakat harus menggunakan perangkat lunak yang legal. Wajib melakukan pembaharuan atau update guna menutup celah bug atau keamanan yang bisa saja timbul.

Satu hal yang paling penting adalah tidak menyebar data pribadi kepada orang lain secara sembarangan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini