Share

Memahami Definisi dan 6 Jenis Hacker, Tak Semuanya Jahat

Risa Maharani Putri, Jurnalis · Rabu 21 September 2022 16:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 54 2672146 memahami-definisi-dan-6-jenis-hacker-tak-semuanya-jahat-0NBGo2zlRi.jpg Memahami definisi dan 6 jenis hacker, tak semuanya jahat (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Peretas (hacker) adalah individu atau sekelompok orang yang menggunakan komputer, jaringan atau keterampilan untuk mengatasi masalah teknis.

Keberadaan hacker lekat dengan aktivitas ilegal berupa peretasan, pembobolan, pencurian data, dan sejenisnya, yang bertujuan untuk kepentingan komersial.

Di era digital seperti sekarang ini, tidak sedikit kasus peretasan yang terjadi dan melibatkan pemerintahan, perusahaan, atau tokoh penting sebagai korbannya.

Namun, kemampuan meretas hacker tidak selalu digunakan secara negatif dan berujung pada pelanggaran hukum.

Ada pula hacker yang mendapatkan izin secara hukum untuk menggali informasi lewat komputer dan memperkuat sistem keamanan agar terhindar dari peretasan.

Untuk lebih mengenal tentang hacker, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah definisi dan jenis-jenis hacker yang perlu diketahui.

1. Black Hat hacker

Black hat hacker atau peretas topi hitam adalah penjahat dunia maya. Mereka beraksi untuk membobol perangkat dan jaringan pribadi demi mencuri data sensitif dan dimanfaatkan untuk kegiatan komersial.

Peretas jenis ini, ahli dalam menggunakan perangkat lunak jahat seperti ransomware, spyware, dan sejenisnya untuk meretas informasi yang mereka cari.

Mereka juga menggunakan pemerasan untuk mengancam korban. Tujuan dari peretasan, yaitu untuk mendapat keuntungan dari hasil penjualan data.

2. White Hat Hacker

White hat hacker adalah peretas yang menghormati hukum yang berlaku. Biasanya para white hat hacker ini dulunya seorang black hat hacker dan telah bertobat.

Berbeda dengan black hat hacker, white hat hacker hanya mencari celah dan mengeksploitasi saat mereka mendapat izin secara hukum untuk melakukannya.

White hat hacker ini bisa melakukan penelitian pada perangkat lunak sumber terbuka (open soucre) serta sistem yang sudah diberi wewenang untuk menyelidikinya.

White hat hacker nantinya akan mengungkap semua data yang ditemukan kepada perusahaan atau pemilik produk.

Berdasarkan data yang diperoleh white hat hacker itu, nantinya dapat dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki kekurangan atau menyelesaikan masalah sebelum dieksploitasi oleh peretas yang tidak bertanggung jawab.

3. Blue Hat Hackers

Hacker satu ini melakukan peretasan sebagai senjata untuk mendapatkan popularitas di antara sesama peretas lainnya. Blue hat hackers biasanya melakukan peretasan guna menyelesaikan skor dengan musuh.

Teknik peretasan yang diterapkan blue hat hacker salah satunya melewati mekanisme autentik untuk mendapatkan akses ilegal ke email atau akun media sosial yang menjadi target mereka.

Hal tersebut, memberi kemampuan untuk mengirim email dengan mengunggah pesan yang tidak pantas dari akun itu sebagai aksi membalas dendam.

Contoh kasus lainnya yang dilakukan blue hat hacker, seperti seorang mantan karyawan yang meretas server perusahaan atau mencuri data rahasia pelanggan dan mengunggahnya ke publik untuk merusak reputasi kantor dan atasannya.

4. Gaming Hackers

Target gaming hacker adalah para pecinta video game. Mereka menggunakan tren video game terbaru untuk memanipulasi game menyasar ke pernyataan login, informasi pembayaran, dan detail data pribadi yang dilampirkan di akun pengguna.

Salah satu kasus peretasan video game paling terkenal, yaitu Electronic Arts (EA) yang melapor menjadi korban serangan siber dan berakibat membahayakan 780 GB lebih kode sumber game.

Peristiwa itu, terjadi pada tahun 2021 lalu. Untungnya, mereka berhasil menjaga data pribadi pemain online. Tujuan dari gaming hacker ini semata-mata untuk mendapat keuntungan.

5. Cyberterrorists

Cyberterrorists adalah peretas yang bermain di ranah politik. Para peretas ini menggunakan keahlian mereka untuk menarik perhatian dengan mengganggu sistem informasi. Gangguan tersebut, dapat mengancam keselamatan fisik manusia bahkan menyebabkan hilangnya nyawa.

Salah satu kasus terjadi pada tahun 2010, ketika aktivis HAM di China dan Tibet diretas akun emailnya. Para cyberterrorists ini ingin mengacaukan rencana yang sudah dibuat.

6. Botnet Hackers

Bonet hacker adalah peretas yang memanfaatkan sepenuhnya nama mereka dan menggunakan botnet untuk melakukan serangan siber. Botnet sendiri merupakan sekumpulan program yang dapat menginfeksi jaringan komputer.

Bila sebuah perangkat terserang oleh botnet, hacker bisa mencuri data, merusak server, atau bahkan mengirimkan malware berbahaya. Peretas bisa menggunakan sekitar 20.000 botnet untuk membanjiri sistem dengan lebih dari 330 juta permintaan serangan.

Tujuan dari botnet hacker sendiri, menginfeksi perangkat dengan botnet untuk mencuri dan atau mengkompromikan informasi sensitif untuk kemudian dijual di dark web.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini