Share

Ide Ilmuwan Bekukan Kutub Es yang Mencair Demi Lawan Krisis Iklim

Angeltika Clara Sinaga, Jurnalis · Rabu 21 September 2022 16:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 56 2672111 ide-ilmuwan-bekukan-kutub-es-yang-mencair-demi-lawan-krisis-iklim-si11Z54jug.JPG Ide ilmuwan bekukan kutub es yang mencair demi lawan krisis iklim (Foto: iStock)

JAKARTA - Krisis iklim menjadi masalah serius yang dikhawatirkan oleh para ilmuwan. Sebab, bikin es-es di kutub mulai mencair dengan lebih cepat, dan berdampak buruk bagi masa depan Bumi.

Dilansir dari Independent, Rabu (21/9/2022), ilmuwan pun kini mencetuskan ide untuk membekukan kembali Kutub Utara dan Selatan demi melawan krisis iklim yang terjadi saat ini.

Dalam sebuah studi baru yang dipimpin oleh Wake Smith di Universitas Yale, cara yang diusulkan oleh ilmuwan adalah dengan memancarkan partikel aerosol ke atmosfer Bumi untuk menghalangi sebagian sinar Matahari.

Para ilmuwan mencetuskan ide mereka menggunakan armada pesawat militer untuk melepaskan partikel aerosol ke stratosfer di belahan Bumi Utara dan Selatan. Hal ini, dipercaya bisa membantu mengelola masalah kenaikan permukaan laut dengan memperlambat pencairan es.

Konsep ini, disebut Injeksi Aerosol Stratosfer, di mana akan menelan biaya sebesar $10 miliar per tahun, tetapi ilmuwan mengatakan bahwa metode ini menggunakan dana yang relatif kecil dibandingkan metode lain, mengingat juga dampak dari krisis iklim yang akan merugikan dunia dalam skala besar.

Berdasarkan rencana Environmental Research Communications, guna mewujudkan ide tersebut, dibutuhkan sekitar 175 ribu penerbangan per tahun agar mencapai target yang diinginkan.

โ€œMeski ini bisa mengubah Bumi yang memanas dengan cepat, suntikan aerosol stratosfer hanya mengobati gejala perubahan iklim, bukan penyakit yang mendasarinya. Ibaratnya, ini aspirin, bukan penisilin. Jadi, ini bukan pengganti dekarbonisasi,โ€ kata Smith.

Sebenarnya, studi ini dianggap kontroversial oleh beberapa ahli karena jumlah karbon dioksida yang akan dilepaskan ke atmosfer dengan penerbangan yang membawa aerosol mikroskopis terhitung besar, sehingga bisa menimbulkan efek buruk yang tidak terduga di seluruh dunia.

Namun, rencana tersebut didukung oleh Sir David King, mantan kepala ilmuwan pemerintah dan pendiri Centre for Climate Repair (CCR) di Universitas Cambridge. Ia mengatakan bahwa krisis iklim berada pada titik kritis dan membutuhkan metode-metode di luar nalar.

Para ilmuwan memilih wilayah Bumi ini dikarenakan penduduknya yang sedikit, dalam arti hanya satu persen dari populasi manusia yang akan terkena dampak jika terjadi kesalahan dalam rencana penelitian tersebut.

(amj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini