Share

5 Negara yang Jadi Target Teratas Serangan Ransomware

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 30 September 2022 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 54 2677972 5-negara-yang-jadi-target-teratas-serangan-ransomware-PDbyeGdYm8.png 5 negara yang jadi target teratas serangan ransomware (Foto: Pixabay)

JAKARTA - Ada lima negara yang menjadi target teratas serangan ransomware di seluruh dunia, hal ini berdasarkan laporan terbaru NordLocker.

Data dikumpulkan NordLocker yang didasari dari distribusi periode kasus serangan ransomware antara Januari 2020 hingga Juli 2022.

Lima negara teratas yang menjadi target serangan ransomware adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman. Sialnya, usaha kecil dan menengah (UKM) di Inggris menjadi incaran empuk serangan ransomware.

"Perusahaan kecil Inggris berada pada risiko tertinggi, terlepas dari lokasi geografis mereka, yaitu 62% dari semua serangan," terang laporan NordLocker, dikutip dari Computing, Jumat (30/9/2022).

NordLocker memeriksa 18 sektor dan menemukan bahwa layanan bisnis mengalami jumlah serangan ransomware tertinggi (10,1%), diikuti pendidikan (9,7%), konstruksi (8,9%), trasportasi (7,7%), manufaktur (7,3%), dan institusi sektor publik (5,7%).

Conti dan LockBit merupakan dua geng ransomware paling aktif di Inggris, masing-masing mengklaim bertanggung jawab atas 22,2% dan 11,5% serangan. Mereka juga merupakan grup paling aktif di seluruh dunia.

Ada data menarik bahwa hampir setengah dari semua serangan ransomware yang dikonfirmasi secara publik di seluruh dunia antara Januari 2020 hingga Juli 2022 diarahkan ke organisasi AS.

Selain itu, situs web grup ransomware sendiri mencantumkan 5.200 serangan yang mana hampir 2.400 di antaranya melibatkan perusahaan AS.

Misalnya saja organisasi yang berbasis di California, Texas, Florida, dan New York, mereka mengalami serangan ransomware paling banyak, meskipun saat tingkat jumlah bisnis aktif di setia negara bagian disesuaikan, perusahaan di Michigan ternyata paling berdampak.

CTO NordLocker, Tomas Smalakys, mengatakan bahwa geng ransomware seringnya mengincar korban pada dua kriteria.

Pertama, seberapa besar kemungkinan perusahaan yang ditargetkan akan membayar tebusan, seberapa penting perusahaan dalam rantai pasokan, jumlah informasi rahasia yang ditangani, dan faktor lain seperti sekadar memberi tekanan pada perusahaan untuk membuat operasi kembali berjalan.

"Kriteria kedua lebih lugas dan terutama berkaitan dengan kedalaman kantong perusahaan alias seberapa kaya perusahaan tersebut dan seberapa kurang pertahanan siber bisnis mereka," kata Smalakys.

Dari kriteria tersebut, tidak heran muncul asumsi bahwa perusahaan yang kaya raya akan sangat rentan menjadi target serangan ransomware. Tetapi, fakta di lapangan tidak semulus asumsi publik.

Buktinya, bisnis kecil di Inggris tetap menjadi incaran serangan ransomware. Bisnis kecil di Inggris yang jadi target rata-rata hanya punya karyawan antara 11 hingga 200 orang saja.

"Itu terjadi karena perusahaan kecil cenderung kurang memprioritaskan keamanan siber daripada yang lebih besar, makanya mereka jadi target serangan," sambung Smalakys.

Lebih lanjut, menurut penelitian yang dirilis pada Agustus 2022 oleh perusahaan remediasi ransomware, Coveware, lebih sedikit bisnis yang membayar uang tebusan pada kuartal kedua 2022.

Hal ini, akibat meningkatnya tekanan dan kebijakan yang diberlakukan oleh organisasi penegak hukum dan perusahaan keamanan siber.

Sementara itu, pembayaran tebusan rata-rata di Q2 2022 adalah USD228.125 yang mana itu naik 8% quarter-on-quarter, nyatanya pembayaran tebusan rerata turun 51% menjadi USD36.360.

Coveware menyarankan, agar para korban tidak membayar uang tebusan sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukan penyerang. Pesan ini, senada dengan apa yang disampaikan Menteri Energi AS Jennifer Granholm.

"Kami sampaikan bahwa membayar tebusan ransomware hanya memperburuk dan mempercepat masalah. Itu sama saja Anda mendukung aktor jahatnya," ungkapnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini