Share

Mengenal Satelit LAPAN-A2 yang Sudah Mengorbit 7 Tahun

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Sabtu 01 Oktober 2022 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 01 56 2678675 mengenal-satelit-lapan-a2-yang-sudah-mengorbit-7-tahun-XrTx795g8S.jpeg Mengenal satelit LAPAN-A2 yang sudah mengorbit 7 tahun (Foto: LAPAN)

JAKARTA - Satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI merupakan salah satu hasil riset karya anak bangsa, dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (OR PA).

Tepat pada 28 September 2015, satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI diluncurkan dari Sriharikota, India, dioperasikan melalui Mission Control Center (MCC) Stasiun Bumi Rancabungur Bogor.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi mengatakan, selama tujuh tahun mengorbit satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI telah menunjukkan kontribusi para periset dalam memantau wilayah Indonesia dan membantu proses komunikasi untuk daerah-daerah yang dilanda bencana.

Dengan teknologi tingginya, LAPAN-A2 mampu memberikan manfaat langsung secara luas kepada masyarakat.

“Tabungan pengetahuan yang dikumpulkan para periset BRIN selama beroperasinya satelit ini pada orbit ekuatorial yang berisiko tinggi, bernilai sangat tinggi. Selain itu juga menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk merancang dan mengembangkan satelit nasional,” kata Wahyudi, dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (1/10/2022).

Menurut Wahyudi, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan tim periset, operator satelit serta para pegiat amatir radio di seluruh dunia.

Oleh karenanya, Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN bertekad untuk terus berusaha mengembangkan teknologi satelit dalam menjawab kebutuhan nasional di masa depan.

Selama tujuh tahun, satelit LAPAN-A2 telah melakukan operasional tracking, telemetry and command (TT&C) sekitar 5878 jam. Dilengkapi dengan digital space camera resolusi 3,5 meter dan lebar sapuan 7 kilometer.

LAPAN-A2 sudah menghasilkan data citra lebih dari 2,1 juta kilometer persegi untuk mendukung penginderaan jauh.

Satelit hasil kolaborasi dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) ini juga dimanfaatkan untuk mendukung mitigasi bencana.

Baik Voice Repeater (VR) maupun Automatic Packet Reporting System (APRS), kedua muatan ini dapat membantu proses komunikasi darurat di daerah bencana ketika komunikasi terestrial terputus.

Melalui muatan VR, satelit LAPAN-A2 dapat digunakan para amatir radio dalam mengirimkan pesan suara menggunakan Handheld Transceiver (HT) dan antena sederhana. Selama 7 tahun, muatan VR telah diaktifkan selama 1348 jam.

Sementara melalui muatan APRS, operator satelit dapat mengirimkan pesan singkat dalam bentuk teks kepada para amatir radio.

Selain itu, data lain yang dapat dikirimkan dapat berupa gambar. Hingga 28 September 2022, muatan APRS telah diaktifkan selama 3619 jam.

Satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI juga dapat melakukan pemantauan area maritim Indonesia.

Melalui Automatic Identification System (AIS) satelit LAPAN-A2 dapat memantau pergerakan kapal laut di sekitar garis khatulistiwa, hingga saat ini telah terkumpul 354 juta data pemantauan pergerakan kapal laut.

Diketahui, satelit LAPAN-A2 mengorbit di ketinggian 630 kilometer di atas permukaan Bumi. Dengan orbit ekuatorial, satelit LAPAN-A2 dapat melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali sehari.

Hal ini, memungkinkan operator untuk lebih sering memantau kondisi satelit dan menjalankan misi.

Satelit LAPAN-A2 adalah satelit pertama yang 100 persen diproduksi di Indonesia oleh anak bangsa. Rancang bangun satelit ini dilakukan di Pusat Riset Teknologi Satelit, Bogor. Berbeda dengan pendahulunya, satelit LAPAN-A1/LAPAN-Tubsat diproduksi di Berlin, Jerman.

Penguasaan teknologi yang dimiliki oleh Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN telah memadai untuk pengembangan dan pengoperasian satelit pengamat Bumi kelas 150 kilogram, dan satelit komunikasi low-datarate.

Hal ini menunjukkan, Pusat Riset Teknologi Satelit siap mengembangkan dan mengoperasikan satelit penginderaan jauh operasional, dan satelit komunikasi konstelasi orbit rendah.

Saat ini Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN sedang berfokus dalam penyelesaian satelit generasi keempat.

Satelit ini membawa misi utama yang sama dengan Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB, yakni citra multispektral resolusi menengah, namun dengan lebar citra 2x lipat atau 200 kilometer.

Selain misi penginderaan jauh, satelit ini juga memiliki misi pemantauan kapal laut serta misi pengukuran medan magnet bumi dengan kemampuan penerima data yang lebih baik.

Satelit generasi keempat ini juga akan membawa kamera inframerah milik Hokaido University, Jepang dan misi telekomunikasi low-datarate dari perusahaan startup Indonesia, PT Netra.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini