Share

Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Berat, Awan Cumulonimbus, Gelombang Pasang hingga 8 Oktober 2022

Tangguh Yudha, Jurnalis · Kamis 06 Oktober 2022 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 06 56 2681718 daftar-wilayah-berpotensi-hujan-berat-awan-cumulonimbus-gelombang-pasang-hingga-8-oktober-2022-Zs57TWrtYX.jpg Daftar wilayah berpotensi hujan berat, awan cumulonimbus, gelombang pasang hingga 8 Oktober 2022 (Foto: NOAA)

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melihat adanya potensi peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Dengan memonitror dinamika atmosfer, mereka melihat potensi curah hujan dengan intensitas yang sangat lebat dengan disertai kilat dan angin kencang.

Hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan, adanya belokan dan perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan pola konvektifitas serta aktifnya fenomena Madden Jullian Oscillation (MJO) yang berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuator dan gelombang Kelvin.

BMKG menyimpulkan, fenomena ini dapat memaksimalkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan, yakni pada periode 02 - 08 Oktober 2022.

Dilansir dari siaran resmi BMKG, Kamis (6/10/2022), ddapun wilayah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Aceh

2. Sumatera Utara

3. Sumatera Barat

4. Kep. Riau

5. Riau

6. Kep. Bangka Belitung

7. Jambi

8. Bengkulu

9. Sumatera Selatan

10. Lampung

11. Banten

12. DKI Jakarta

13. Jawa Barat

14. Jawa Tengah

15. DI Yogyakarta

16. Jawa Timur

17. Bali

18. Nusa Tenggara Barat

19. Kalimantan Barat

20. Kalimantan Timur

21. Kalimantan Utara

22. Kalimantan Tengah

23. Sulawesi Utara

24. Sulawesi Tengah

25. Sulawesi Barat

26. Sulawesi Selatan

27. Sulawesi Tenggara

28. Papua Barat

29. Papua.

Selain melihat potensi hujan super lebat, BMKG juga menemukan adanya pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) di wilayah udara Indonesia pada tanggan 1-7 Oktober 2022.

Awan CB ini muncul dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75% (OCNL / Occasional) selama 7 hari kedepan (dari tanggal 2 Oktober) dengan wilayah terdampak antara lain:

1. Laut Andaman

2. Laut Cina Selatan

3. Laut Sulu

4. Laut Filipina

5. Samudera Hindia barat daya hingga barat Pulau Sumatera

6. ebagian Pulau Sumatera dan Pulau Jawa

7. Selat Karimata, Laut Jawa

8. Sebagian besar Pulau Kalimantan

9. Selat Makassar

10. Laut Sulawesi

11. Kepulauan Maluku

12. Laut Banda

13. Sebagain kecil Pulau Sulawesi dan Pulau Papua

14. Laut Aru

15. Samudera Pasifik Utara Pulau Papua.

Tidak berhenti di situ, BMKG juga memonitor potensi gelombang tinggi dengan kategori ketinggian gelombang anatara 2,5 meter sampai 4,0 meter di wilayah perairan Indonesia hingga 08 Oktober 2022, yaitu sebagai berikut:

1.Selat Malaka

2. Perairan utara Sabang

3. Perairan barat Aceh

4. Perairan barat P. Simeulue hingga Kep. Mentawai

5. Perairan barat Lampung

6. Perairan Bengkulu

7. Samudra Hindia barat Sumatra

8. Selat Sunda bagian barat dan selatan

9. Perairan selatan Banten hingga Jawa Timur

10. Selat Bali - Lombok - Alas bagian selatan

11. Perairan selatan Bali hingga NTT

12. Samudra Hindia selatan Banten hingga NTT.

BMKG pun menghimbau, pihak-pihak terkait diharapkan melakukan persiapan seperti memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.

Kemudian, melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol serta melakukan program penghijauan secara lebih masif.

Selanjutnya, melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang.

Menggencarkan sosialisasi, edukasi, dan literasi secara lebih masif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian Pemerintah Daerah, masyarakat serta pihak terkait dalam pencegahan bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan gelombang tinggi).

Dan mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometrorologi, dan terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini