Share

Studi Baru Ungkap Dampak Aneh dari Krisis Iklim Terhadap Satelit Luar Angkasa

Tangguh Yudha, Jurnalis · Jum'at 28 Oktober 2022 09:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 28 56 2696107 studi-baru-ungkap-dampak-aneh-dari-krisis-iklim-terhadap-satelit-luar-angkasa-w36zxV7wor.jpeg Studi baru ungkap dampak aneh dari krisis iklim terhadap satelit luar angkasa (Foto: NASA)

JAKARTA - Studi baru mengungkapkan, ada dampak dari krisis iklim terhadap satelit luar angkasa, sebab karbon dioksida menghambat kemampuan Bumi untuk membersihkan atmosfer atasnya.

Diolah dari Futurism, Jumat (28/10/2022), sehingga objek-objek orbit dekat Bumi, termasuk satelit luar angkasa bakal mengalami sedikit gangguan.

Bagi perusahaan perawatan satelit, efek ini tentu menjadi makanan empuk, namun ketidakmampuan Bumi untuk membersihkan diri sendiri akibat kelebihan CO2 akan menambah banyak puing-puing ruang angkasa yang berpolusi dan berbahaya.

"Puing-puing ruang angkasa menjadi masalah yang berkembang pesat bagi operator satelit karena risiko tabrakan. Penurunan jangka panjang di atas pepadatan atmosfer semakin buruk," ungkap Ingrid Cnossen, seorang peneliti di British Antarctic Survey.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, menggunakan model penelitian dari seluruh atmosfer untuk memeriksa bagaimana bagian atas wilayah yang membentang ketinggian antara 90 km dan 498 km dari permukaan Bumi telah berubah.

"Perubahan yang kami lihat antara iklim di atmosfer atas selama 50 tahun terakhir dan prediksi kami untuk 50 tahun berikutnya adalah hasil dari emisi karbon dioksida," lanjut Cnossen.

Ia pun menyebutkan, gas rumah kaca sebenarnya memiliki dampak yang berlawanan pada atmosfer.

Saat partikel CO2 itu menyedot panas terbatas yang tersedia di sana, atmosfer menyusut dan mendingin, dalam efek yang pada akhirnya membuat orbit satelit lebih mulus dan lebih lama, ditambah sampah yang disebabkan oleh pesawat ruang angkasa tua yang sudah mati.

Semua orang pada akhirnya akan rugi jika puing-puing luar angkasa semakin tidak terkendali.

Satelit baru akan mengalami kesulitan bekerja di tempat yang mungkin menjadi tempat barang rongsokan orbit dekat, dan manusia, di darat dan di luar angkasa, dapat menghadapi konsekuensi yang mengancam jiwa.

"Saya berharap pekerjaan ini akan membantu memandu tindakan yang tepat untuk mengendalikan masalah polusi ruang angkasa," tambah Cnossen, "dan memastikan bahwa atmosfer bagian atas tetap menjadi sumber daya yang dapat digunakan di masa depan," imbuhnya.

(amj)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini