Share

Fenomena Tengah Hari Lebih Cepat di Indonesia Berlangsung Hari Ini

Ahmad Muhajir, Jurnalis · Kamis 03 November 2022 08:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 03 56 2699875 fenomena-tengah-hari-lebih-cepat-di-indonesia-berlangsung-hari-ini-sX7pItNtcB.jpg Fenomena tengah hari lebih cepat di Indonesia berlangsung hari ini (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Fenomena tengah hari lebih cepat di Indonesia berlangsung hari ini, Kamis (3/11/2022). Secara umum, dampaknya menyebabkan waktu terbit Matahari, waktu duha maupun subuh lebih cepat dibandingkan hari-hari lainnya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangerang, menjelaskan bahwa hal ini dikarenakan durasi malam hari yang semakin lebih kecil jika dibandingkan dengan durasi siang hari untuk belahan selatan pada umumnya.

"Ditambah juga dengan tengah hari yang lebih awal, sehingga ketiga waktu salat ini menjadi lebih cepat," kata Andi, dikutip dari keterangan resminya.

Sedangkan, tengah hari lebih awal akan menyebabkan waktu terbenam Matahari (magrib) maupun waktu isya sekaligus akhir senja astronomis (awal malam astronomis) yang lebih cepat dibandingkan hari-hari lainnya.

Terutama, bagi wilayah utara Indonesia seperti Aceh, Sumatera Utara, Kep. Natuna (Provinsi Kep. Riau), Kalimantan Utara dan Kep. Sangir-Talaud (Sulawesi Utara).

Hal ini, dikarenakan durasi malam hari yang semakin lebih besar jika dibandingkan dengan durasi siang hari untuk belahan utara pada umumnya, ditambah juga dengan tengah hari yang lebih awal, sehingga kedua waktu salat ini menjadi lebih cepat.

Selain itu, panjang hari surya menjadi tepat 24 jam. Hari surya (solar day) adalah durasi antara tengah hari hingga tengah hari berikutnya. Karena panjang hari surya secara matematis merupakan derivasi/turunan fungsi perata waktu.

Saat perata waktu mencapai nilai maksimum maupun minimum, maka derivasinya tepat nol. Sehingga, panjang hari surya menjadi setimbang.

Panjang hari surya bervariasi antara 24 jam minus 11 detik (18 September) hingga 24 jam plus 30 detik (25-26 Desember). Fenomena ini tidak berdampak bagi kehidupan manusia di Bumi.

(amj)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini