Share

Di Balik Mati Lampu di Rumah Elon Musk

Kemas Irawan Nurrachman, Jurnalis · Rabu 16 November 2022 19:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 16 54 2708934 di-balik-mati-lampu-di-rumah-elon-musk-4m3D6BOw8g.jpg Catred, Di Balik Mati Lampu Rumah Elon Musk (Foto: Dok)

Ada kejadian menarik saat orang terkaya di dunia, Elon Musk, mengalami mati lampu saat menjadi pembicara di acara B20 yang digelar di Bali pada Senin, 14 November 2022. Elon mengaku, lampu di rumahnya mati beberapa saat sebelum video konferensi dimulai.

"Kami mengalami pemadaman listrik tiga menit sebelum panggilan telephon ini. Itulah mengapa saya berada di kegelapan ini," tutur Elon Musk sebelum memulai obrolan.

Meski melalui virtual, namun diskusi Elon Musk dengan Anindya Bakrie, Ketua Dewan Pertimbangan KADIN berjalan dengan cair. Elon terlihat mengenakan pakaian Batik Bomba kiriman dari Anindya sebelum acara tersebut berlangsung.

"Batik yang Anda pakai berasal dari Sulawesi Tengah, dari sebuah desa kecil yang memiliki cadangan nikel. Jadi saya berharap suatu hari Anda dapat berkunjung ke sana. Kami berambisi untuk membangun kawasan industri NetZero dengan energi bersih," tutur Anindya.

Rumah Elon Musk Mati Lampu 

Sekadar diketahui, Nikel merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk baterai kendaraan listrik. Dengan energi terbarukan tersebut, membuat kendaraan menjadi ramah lingkungan dan energi bersih.

Mati lampu untuk sejumlah masyarakat di Indonesia mungkin menjadi hal yang lumrah. Namun, bagaimana ini terjadi jika di rumah Elon Musk yang notabene adalah orang terkaya di dunia.

Sejumlah diskusi di ruang publik pun muncul. Bahkan perbincangan warganet pun ramai di Twitter terkait mati lampu rumah Elon Musk.

"Sarkas bisa aja buat negara Eropa yang lagi krisis energi," tulis salah seorang warganet.

"Mungkin token nya abis," tulis warganet lainnya.

Bisa jadi mati lampu di rumah Elon Musk sebuah kebetulan belaka. Namun, perbincangan di forum tersebut mengenai energi terbarukan sepertinya bukan perkara sederhana.

Listrik menjadi salah satu perbincangan yang hangat dilakukan hampir di seluruh dunia. Sejumlah negara ramai-ramai mengeksplorasi enegi terbarukan tersebut, tidak terkecuali Indonesia.

Krisis Ekonomi Global 2023

Tidak bisa dipungkiri, bahwa ancaman krisis global 2023 sudah di depan mata. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam beberapa kesempatan menjelaskan, kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Sehingga, ancaman resesi ekonomi akan menghantui seluruh negara di dunia.

Bank-bank sentra dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga sebagai respons dari inflasi. Inflasi adalah proses meningkatnya harga secara umum dan terus menerus. Beberapa pemicu inflasi seperti pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina membuat pasokan komoditas negara-negara di dunia tersendat.

Jika kembali ke industri listrik terbarukan, biaya untuk melakukan perubahan memang bukan perkara murah. Dibutuhkan banyak dana untuk membangun infrastruktur demi mewujudkan energi listrik yang ramah lingkungan tersebut. Dengan situasi krisis ekonomi global di 2023, pembiayaan untuk mewujudkan rencana kendaraan listrik murah ke masyarakat Indonesia pasti akan terganggu.

Berkaca dari industri otomotif saat ini, sebuah mobil yang menggunakan mobil listrik dibanderol dengan kisaran di atas Rp800 juta. Mobil Tesla dengan tipe termurah yakni Model S yakni sekira Rp1 miliar.

Sedangkan tingkat kemampuan masyarakat Indonesia untuk mobil berada di kisaran Rp300-450 jutaan. Jika menuju harga tersebut, maka komponen utama mobil listrik yakni baterai harus dibuat di Indonesia. Jelas ini bukan perkara mudah dan murah.

Semoga mati lampu di rumah Elon Musk bukan hanya sekadar tanda bahwa energi terbarukan seperti listrik tidak hanya dinikmati oleh negara-negara maju. Dan Indonesia yang memiliki bahan baku nikel terbesar, bisa menjadi raja di negeri sendiri untuk mendapatkan listrik murah 'di rumah' nya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini