Share

Rencana Ilmuwan Redupkan Sinar Matahari untuk Lawan Krisis Iklim

Tangguh Yudha, Jurnalis · Kamis 01 Desember 2022 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 56 2718477 rencana-ilmuwan-redupkan-sinar-matahari-untuk-lawan-krisis-iklim-UfxUJO0lX9.jpg Rencana ilmuwan redupkan sinar Matahari untuk lawan krisis iklim (Foto: Reuters)

JAKARTA - Sekelompok ilmuwan Harvard berencana untuk mengatasi krisis iklim dengan cara meredupkan Matahari. Proyek ambisius ini akan dilakukan menggunakan metode geoengineering.

Nantinya, sinar Matahari akan dihalangi sehingga pemanasan global bisa diredam dan harapannya Bumi bisa selamat. Proyek itu, disebut Stratospheric Controlled Perturbation Experiment (SCoPEx).

Diolah dari Forbes, Kamis (1/12/2022), SCoPEx akan menghabiskan $3 juta (Rp 47,2 miliar) untuk menguji model dengan meluncurkan balon yang dapat dikemudikan di barat daya AS sejauh 20 kilometer ke stratosfer.

Balon nantinya akan melepaskan partikel kecil kalsium karbonat. Inspirasi dari eksperimen ini adalah bagaimana efek letusan gunung berapi besar mampu memengaruhi suhu planet secara signifikan.

Diketahui, pada tahun 1991 lalu, Gunung Pinatubo di Filipina meletus secara spektakuler, melepaskan 20 juta ton sulfur dioksida ke stratosfer.

Sulfur dioksida tersebut menciptakan selimut di sekitar stratosfer Bumi dan mendinginkan seluruh planet sebesar 0,5 derajat Celcius selama sekitar satu setengah tahun. Ilmuwan berharap, dengan berkaca dari kasus ini, maka suhu Bumi akan menurun dan fenomena pemanasan ekstrim bisa diatasi.

Para ilmuwan, lembaga pemerintah di seluruh dunia, dan kelompok lingkungan semakin khawatir dengan kemampuan manusia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengekang krisis iklim. Mereka mengatakan sulit untuk mengurangi emisi gas di Bumi, dan cara yang lebih diterima adalah meredupkan Matahari.

Follow Berita Okezone di Google News

Untuk mengurangi efek samping yang ditimbulkan, dalam prosesnya tim peneliti Harvard bakal menyemprotkan partikel kapur kecil (kalsium karbonat) ke stratosfer secara terkontrol. Meskipun potensi efek negatifnya tidak sepenuhnya diketahui, namun cara ini dinilai aman sekaligus dapat menekan biaya.

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) baru-baru ini, memperkirakan bahwa pelepasan partikel secara terus-menerus ke stratosfer dapat mengimbangi pemanasan 1,5 derajat Celcius sebesar $1 miliar hingga $10 miliar per tahun.

Saat membandingkan biaya ini dengan pengurangan global dalam penggunaan bahan bakar fosil atau penyerapan karbon, metode ini menjadi sangat menarik.

Oleh karena itu, ilmuwan, lembaga pemerintah, dan penyandang dana independen dari teknologi ini harus menyeimbangkan kemurahan dan keefektifan metode ini dengan potensi risiko terhadap tanaman global, kondisi cuaca, dan kekeringan.

Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk sepenuhnya mengkarakterisasi risiko adalah dengan melakukan eksperimen dunia nyata, seperti yang dilakukan tim Harvard.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini