Share

Canggih, Penyakit Alzheimer Kini Bisa Terdeteksi via Darah

Tangguh Yudha, Jurnalis · Minggu 01 Januari 2023 14:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 30 56 2737421 canggih-penyakit-alzheimer-kini-bisa-terdeteksi-via-darah-h2MSMynb21.jpg Canggih, Penyakit Alzheimer Kini Bisa Terdeteksi via Darah, Ilustrasi (Foto: Freepik)

Teknologi untuk menentukan penyakit Alzheimer, kini semakin canggih. Belum lama ini, sejumlah ilmuwan dapat menemukan penyakit tersebut dari tubuh pasien hanya dengan memeriksa darah.

ALZHEIMER adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir dan berbicara. Penyakit ini merupakan penyebab utama dari demensia.

Ilmuwan asal Swedia, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat itu menemukan metode deteksi Alzheimer lewat cara yang lebih simpel dan murah melalui tes darah, seperti dikutip dari Engadget, Minggu (1/1/2023)

BACA JUGA:Mengenal Alzheimer yang Membuat Chris Hemsworth Vakum dari Dunia Hiburan

BACA JUGA:Kenali Penyebab Alzheimer yang Sering Diabaikan Orang, Salah Satunya Faktor Helm 

Ini dilakukan setelah melalui serangkaian uji coba terhadap 600 pasien. Para ilmuwan menyakini, tes yang baru saja ditemukan ini sangat efektif dan akurat.

Melalui serangkaian uji coba, tes darah dapat mendeteksi protein yang berasal dari otak dan menganalisis apakah pasien tersebut mengalami Alzheimer atau tidak.

Follow Berita Okezone di Google News

Thomas Karikari, salah seorang ilmuwan yang menguji, mengatakan jika temuan ini diharapkan bisa membantu peneliti lain merancang uji klinis yang lebih baik untuk perawatan pasien Alzheimer.

Tes darah ini, lanjut profesor asal psikiatri University of Pittsburgh itu, diyakini lebih murah, lebih aman, lebih mudah dilakukan, dan dapat meningkatkan kepercayaan klinis dalam mendiagnosis Alzheimer.

Meski demikian, Thomas mengakui jika temuan ini perlu pengembangan dan penelitian yang lebih lanjut. Para ilmuwan saat ini masih perlu memvalidasi bahwa itu berfungsi untuk berbagai macam pasien, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda, yang tidak sama dari 600 pasien yang dijadikan sampel.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini