Share

Peneliti Ungkap Kenapa Bangunan Roma Masih Kokoh Berdiri

Tangguh Yudha, Jurnalis · Senin 09 Januari 2023 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 09 56 2742759 peneliti-ungkap-kenapa-bangunan-roma-masih-kokoh-berdiri-OO8xwLBlm1.jpg Kota Roma. (Foto: romeitalyapartments.blogspot)

KOTA Roma memang tidak dibangun dalam sehari. Mungkin itu adalah pepatah yang paling sering kita dengar ketika kita tengah membangun sebuah usaha. Memang pembangunan Kota Roma tidak dilakukan dengan asal, buktinya bangunan tersebut masih bertahan hingga saat ini.

Bangunan Roma kuno terkenal dengan kekuatannya yang tiada tanding. Ada banyak sekali bangunan ibu kota kekaisaran yang menjulang gagah sampai sekarang ini hingga Roma sering disebut sebagai kota abadi.

Misalnya saja Pantheon, bangunan ini memiliki kubah beton tanpa tulangan terbesar di dunia. Bangunan ini adalah salah satu prestasi arsitektur dunia kuno, dan prestisenya tetap ada hingga hari ini.

Lebih dari 2.000 tahun setelah kuil Pantheon dibangun, karya arsitektur megah dan bangunan beton Romawi lainnya seperti Colosseum dan saluran air terus berdiri tegak. Sebaliknya, beton modern dapat runtuh hanya dalam beberapa dekade.

Kota Roma

Lantas mengapa bangunan Roma masih berdiri tegak? Berikut ini adalah penjelasannya, seperti dilansir dari BBC, Senin (9/1/2023).

Mengetahui bagaimana bangunan Roma kuno bisa bertahan lama bukanlah hal yang mudah. Rahasia kekuatannya sudah tersimpan lama, namun para peneliti mungkin baru saja mengungkap salah satunya. Penelitian baru menunjukkan bahwa orang Romawi menggunakan campuran beton inovatif yang bahannya masih misteri. Mengetahui hal ini tentu akan membuat bangunan zaman sekarang akan ebih tahan lama.

Para ilmuwan memeriksa sampel dari dermaga Romawi kuno ini dengan sinar-X berkekuatan sangat tinggi. Mereka menemukan bahwa bangunan Roma dibuat menggunakan bahan dari material vulkanik dan juga air laut. Unsur-unsur di dalam material ini selain memperkuat struktur beton, juga bisa menghasilkan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan. Berbeda dengan campuran beton modern yang kerap terkikis seiring berjalannya waktu.

Para peneliti mengetahui bahwa beton tersebut mengandung mineral langka yang disebut aluminium tobermorite. Mereka percaya bahwa zat penguat ini mengkristal dalam kapur karena campuran Romawi menghasilkan panas saat terkena air laut.

Follow Berita Okezone di Google News

Peneliti sekarang telah melakukan pemeriksaan yang lebih rinci terhadap sampel bangunan menggunakan mikroskop elektron untuk memetakan distribusi unsur. Mereka jugamenggunakan dua teknik lain, yakno difraksi mikro sinar-X dan spektroskopi Raman.

Studi baru ini mengatakan para ilmuwan menemukan sejumlah besar tobermorite tumbuh melalui kain beton, dengan mineral berpori terkait yang disebut phillipsite. Para peneliti mengatakan bahwa paparan jangka panjang terhadap air laut membantu kristal ini terus tumbuh seiring waktu, memperkuat beton dan mencegah retakan.

"Berlawanan dengan prinsip beton berbasis semen modern, orang Romawi menciptakan beton seperti batu yang tumbuh subur dalam pertukaran kimia terbuka dengan air laut. Ini kejadian yang sangat langka di Bumi," kata Marie Jackson dari University of Utah, AS.

Campuran kuno sangat berbeda dari pendekatan saat ini. Bangunan modern dibangun dengan beton berbahan dasar semen Portland. Ini melibatkan pemanasan dan penghancuran campuran beberapa bahan termasuk batu kapur, batu pasir, abu, kapur, besi dan tanah liat.

Bahan halus tersebut kemudian dicampur dengan "agregat", seperti batu atau pasir, untuk membangun struktur beton. Proses pembuatan semen di era modern kurang kuat dan memiliki dampak lingkungan yang berat, bertanggung jawab atas sekitar 5% emisi global CO2.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini